0

cerita sex dengan spg

-

Baru pertama kali saya merasakan memek Istri Pejabat selebut itu dengan goyangan begitu enak. Sesuai saja pejabat tua itu menikahi gadis muda ini. Berikut Cerita Mesum Birahi tersebut.

Saya seorang lelaki dengan umur 24 tahun, orang bilang saya lumayan ganteng dengan potongan rambut yang senantiasa pendek..tubuh ku agak kecil tinggiku 160 dengan berat badan 55 kg jadi yah lumayan kurus melainkan terlihat lincah….ketika ini aku kuliah semester akhir di suatu perguruan tinggi swasta ternama di makassar.
Saya kuliah jurusan pariwisata yang tentunya banyak di huni oleh wanita-wanita indah…

Namanya rani tubuhnya sungguh-sungguh cantik, kulitnya putih, tinggi 165 dan penampilan amat sexy….dia adalah mahasiswi baru di jurusan ku, umurnya sekitar 20 tahun orangnya tampaknya lugu tiap-tiap ia lewat depan kelas ku ia senantiasa tersenyum.
Terus jelas saya jadi penasaran untuk berkenalan sama dia tapi saya juga yakni cowok yang agak pemalu kalo berurusan dengan wanita karena mulai aku kuliah sampai dikala ini saya belum punya pacar di kampus ini…jikalau pacaran dengan perempuan nakal memang banyak tetapi kalo pacaran serius belum pernah.

Kian hari perasaan ku kian menyenangi sama rani sehingga suatu sore saya beranikan berkenalan dengan ia ketika mau pulang kampus.
Ternyata nama aslinya Maharani, ia tinggal dekat dengan kampus bersama kedua orangtuanya sehingga dia pulang cuma berjalan kaki.
Perkenalannya betul-betul singkat karena nampaknya dia tak terlalu merespons dengan baik ia hanya menceritakan namanya kemudian bla2x sedikit, lalu pulang.
Keesokan harinya kemudian aku menanyakan nomor hpx tapi rani tidak memberikan dengan alasan hpx jarang dia aktifkan…aku cuma linglung karena dia langsung pergi.

Saya kian penasaran karena rani semaki misterius….sulit untuk di ajak bicara.
Suatu petang aku mengikuti ia dari belakang menuju kerumahnya dan memang rupanya rumahnya tidak terlalu jauh dari dari kampus dan rupanya ia masuk kerumah besar yang merupakan rumah salah satu pejabat besar di kota ini, saya sempat terkejut alo terbukti rani yaitu seorang anak pejaba…tapi kenapa ia begitu tertutup…seperti terasing dari yang lain.
Aku tetap menunggu sebagian ketika dan kemudia tidak berapa lama pemilik rumah itu tiba dan langsung masuk kerumah padahal supir dan mobilnya keluar lagi entah kemana.

Rumah itu tanpak sepi…hingga sekitar 2 jam saya menunggu walhasil aku putuskan untuk pulang karena tak ada perkembangan.
Hampir satu pekan aku meniru rani pulang dan tak ada perubahan semunya sama tiap harinya.
Kesudahannya saya beranikan diri untuk pergi kerumahnya pada suatu malam…
Kaprah kaprah pukul setengah delapan aku tiba dirumah itu, ak telah mempersiapkan alasan untuk meminjam buku anak semester satu sebagai bahan untuk tugas akhirku.

Aku membuka pagar dan lantas mengetuk pintu rumah.
Cukup lama kuketuk dan akhirnya seorang laki2 membukaka pintu yang terbukti pejabat itu.
“Malam pak….ada Rani” tanyaku agak gugup…
“ada perlu apa ya” bunyi pejabat itu agak parau
“saya sahabat kampusnya pak mau pinjam buku sama rani Karena ada tugas untuk esok hari.”
“oh….mari masuk..raninya lagi dikamar…mngkin lagi belajar..tunggu sebentar ya bapak panggilkan…” kemudian pejabat itu masuk keruangan dan tak lama rani keluar dan nampak betul-betul kaget dikala melihatku….
“oh kak dwi..ada apa kak..? kok tau rumah aku disini…?sama siapa…?”

Aku cukup kaget ditanya dengan banyak pertanyaan…
“satu-satu donk dek nanyax…jadi bingung nih mau jawab yang mana duluan”
“sory kak cuman terkejut aja rupanya kakak yang dating….”jawab rani sambil tersenyum manis.
Sinting cantik banget nih cewek…
“anu dek eh anu..cuman berharap pinjam buku dasar2 pariwisata untuk bahan tugas akhir kakak…”
“oh…kakak mau lama atau sejenak disini…?”
“maksudnya dek..?”
“enggak kalo lama biar saya bikinin minuman…”?
“boleh dek sekaligus berharap cerita dewasa ustadzah cerita…gak papa kan..?”
“gak papa kebetulan saya juga lagi bete nih…”

Kemudian rani masuk kedapur…ternyata rani di rumah amat berbeda dengan di kampus..dia benar-benar ramah….
Tidak lama kemudian rani keluar dengan membewa segelas orange juice….
“Mari kak diminum..”
“ok thanks….disini ga ada pembantu ya…?”
“ga ada kak…kan ada aku…”
“yang tadi itu papa kamu ya..?”
“ehmmmm….iya kak tapi papa angkat….”
“ohhh…trus kayax kau orang baru deh disini sebab aku ga pernah liat kau selama ini….meskipun telah empat tahun aku kuliah di dekat rumahmu…”
“iya kak…panjang banget ceritannya……”
“trus boleh di certain gak…?”
“nanti aja kak ya belum waktunya…? Kita ngobrol problem kuliah aja ok..??”
“ok deh…”

Akibatnya kami mengobrol persoalan kuliah dan temen-temen kampus Linda hingga jam separo sepuluh…intinya tak ada sama sekali informasi yang bisa ku dapatkan tetang keluarga ini…dan itu mebuatku kian penasaran.
Kemudian aku pamit pulang pada ayah angkatnya dan nampaknya ayah angkatnya tidak bahagia mengamati aku.
Malam itu aku tak lantas pulang melainkan membisu-diam saya kembali menorobos masuk dan mencari celah untuk mencari tahu apa sebenarnya misteri di rumah ini.
Pekarangannya cukup luas tapi tidak ada satpam dan kelihatan rumah ini benar-benar sepi seperti tak berpenghuni.
Aku mengelilingi rumah itu dan kesudahannya aku menerima jendala yang masih terbuka di samping ruangan tv…kulihat kedalam tampaknya tak ada orang….tangan ku kumasukkan kedalan terali jendala dan mencoba untuk membuka kunci pintu dari dalam.

Klek….pintu itu terbuka….dalam hatiku aku berfikir saya ini benar-benar nekat sebab karena tertangkap basah aku pasti saya problem besar apalagi ini adalah rumah seorang pejabat…namun saya telah terlanjur penasaran dan kepalang basah ya kulanjutkan kembali misi ku untuk mencari tahu apa yang terjadi sesungguhnya di rumah ini.
Aku mendengar bunyi orang sedang bercerita.
“tadi itu siapa..?”
“sahabat kuliah pa…?”
“bukan pacar….”?
“bukan….suer deh…”
Kemudian saya mengintip keruangan itu dan terbukti Linda bersama ayah angkatnya sedang makan malam.

Tak lama kemudian mereka selesai makan dan Linda membersihkan meja makan dan kemudian mereka keluar menuju ruang tak.
Saya langsung segera pesat di ruangan tidak yang kebetulan lampunya mati sehingga tidak nampak dari ruang terlihat.
“Lin..jendela sama pintu telah kau tutup kamu…?”
“sudah pa…?”
Tidak lama kemudian Linda datang dan lantas duduk disamping ayah angkatnya dan kepalanya disandarkan di bahu aya angkatnya itu.

Sambil menonton nampak mereka saling berpegangan tangan…dan saya tidak tahu apa yang mereka tonton sebab menonjol membelakangiku…jantungku berdegup televisi ketika kulihat tangan ayah angkatnya Linda menjalar kedada Linda dan mulai meremas-remasnya
dan nampaknya Linda sungguh-sungguh sangat hal itu.
Desahan Linda cukup terdengar di telingaku sebab tak ada bunyi menonjol.
“Uhffff….ahhhhh….terus pa…..enak….”
Kemudian dengan lincah pejabat itu membuka enak dan bh Linda…serta menurunkan celana pendek yang baju Linda.

Sekarang Linda hanya hanya cd tipis yang berwarna ungu…
Ia tampaknya pasrah dan menunggu apa selanjunya yang akan dia padanya.
Pejabat itu kemudian melepas dijalankan sendiri sampai bugil…
Kini pejabat itu kini bugil dan kelihatan senjata itu berdiri tegak….tak terlalu besar…kira2 13 centi…ukuran standar….
Sementara Linda masih bersandar disofa…..
In case you loved this article as well as you want to receive guidance about Poto bugil iis dahlia i implore you to go to the web site. Tak lama kemudian pejabat itu nai ke sofa dan tidak senjatnya ke mulut Linda…dan dengan sigap Linda mulai memberi pengarahan tugasnya….

Linda mengecup kemudian dengan lembut dimasukkan kedalam mulutnya dan kau senjata itu bles masuk kemulut Linda hanya terlihat bulu pejabat itu yang tampak di hidung dan pipi Linda…
Sementara pejabat itu nampaknya sungguh-sungguh menikmatinya….
Hisap terus lin… jangan dilepas….terus…hisap yang kuat…….
Linda terus mengisap senjata itu…nampak pipinya kempot…..sementara tangan yang satunya lagi …memilin-milin biji yang berada di bawah senjata itu….

Kemudian tak lama kemudian pejabat itu mulai menggenjot pinggulnya sehingga kepala Linda mulai bergoyang maju mundur….
“ssshhhh ….nikmat lin….ahshhhh…uhhhhhhffff….terus sayang …..terusssssss….”
Pejabat itu kemudian mencabut senjatanya dari mulut Linda dan memasukkan kembali dengan kasar sehingga Linda terlihat tersedak….melainkan pejabat itu tak peduli….
Tampak mulut Linda yang kecil nampak memerah sebab sesaknya senjata yang masuk ke mulutnya….

Semakin lama genjotan pejabat itu kian layar kaca kemulut Linda hingga walhasil pejabat itu terlihat menenggang dan memasukkan dalam-dalam senjatanya kemulut Linda…
“ahhhhhhhhhh……ahhhhhhhh…..achhhhhh……..”
Nampaknya pejabat itu mengalami orgasme dan di memuntahkannya di mulut Linda yang paling dalam….dan nampaknya Linda sungguh amat hal itu….di terus menghisap senjata itu seperti tidak ingin melepaskannya sambil menelan berharap segala yang menyemprot tenggorokannya….

Linda terus menghisap senjata itu dan tampaknya pejabat itu mulai merasa geli dan hasilnya mencabutnya dari mulut Linda.
Linda terlihat kecewa dikala senjata itu di cabut….
Kemudian pejabat itu duduk disamping Linda…
“enak banget sedotan kamu sayang….”?
Linda tersenyum sambil terus memegangi senjata pejabat itu yang telah mulai layu…
Sekitar sepuluh menit mereka bercerita sambil saling telah…..
Saya terus memandangi tubuh Linda yang begita cantik….
Susunya masih mengkal…ukuran 32 B…putingnya berwarna pink dan kulitnya putih mulus tanpa noda….sementara kulihat cd ungu yang ia kenakan telah betul-betul basah….
Tak lama kemudian Linda menarik pejabat itu ke lantai dan disuruhnya berbaring….dan Linda tak kembali bergerilya….ia menjilat ingin tubuh pejabat itu dari muluai leher sampai kelutut berulang-ulang….

Kelihatan pejabat itu menggelinjang kenikamatan dan senjatanya telah mulai berdiri tegak kembali….lita mulai mengulumnya kembali dengan lincah…
Sesudah itu Linda melepaskan cd ungunya dan kemudian berjongkok setelah diatas senjata itu……
Perlahan –lahan Linda tak senjata itu kesarang miliknya….
Blesss….senjata itu menghilang diantara menuntun Linda….
Kemudian Linda mulai menggoyangnya dengan liar sementara pejabat it uterus meremas susu milik Linda…..
“ahh…..terus….bokong banget sayang….goyang terus…..saya mau keluar nih…..”
kemudian Linda dengan seketika mempercepat goyangan itu …dan semakin liar….
“ohhh….ahhhh…ohhhh…uhfffff….” suara Linda terdengar..
“saya keluaaaar sayang……ahhhhh……achhhhhhh”

Pejabat itu nampaknya mengalamai orgasme yang kedua sementara Linda masih terus menggoyangnya sebab Linda belum mengalami orgasme….
Saya menyaksikan kejadian itu sambil menservis sendiri senjataku by hand….
Nampak nampaknya Linda kecewa dengan pejabat itu karena Linda belum puas sementara pejabat itu telah lemas berbaring di lantai….
“Sory sayang ya papa keluar duluan habis kamu liar banget sih n punya kamu sempit banget jadi siapa yang bisa tahan di goyang kaya gitu….”
Saya mulai berfikir kotor untuk mencari saya memuaskan Linda malam ini….
Melainkan aku kehilangan aku karena tak lama kemudian mereka berdiri dan langsung masuk kekamar….
Saya kemudian bengong sendiri menyaksikan kejadian barusan sementara torpedo ku masih berdiri tegak….aku berjalan pelan ke arah aku perang tadi….masih tercium tempat birahi yang kuat…kemudian saya servis tropedoku sendiri by hand dan memuncratkannya dilantai bercampur dengan sisa-sisa perang tadi….

Kemudian aku mulai keder bagaimana caranya saya dapat menerima Linda…Yang ku tahu memperoleh intinya Linda kini nafsu yang sangat tinggi.

0

cerita hot kartika putri

-

Bripda Evelin, 24 tahun, yakni seorang anggota Bintara Polwan yang baru dilantik beberapa bulan yang lalu. Evelin atau sering kali dipanggil Yani itu mempunyai wajah yang cukup indah, berkulit putih dengan bibir yang merah merekah, tubuhnya terlihat agak berisi dan sekal. Orang-orang di sekitarnya pun menilai wajahnya mirip dengan penggiat seni Desy Ratnasari.

Banyak orang menyayangkan dirinya yang lebih memilih profesi sebagai seorang polisi wanita daripada menjadi artis atau seorang foto model. Maklumlah, dengan penampilannya yang indah itu Evelin mempunyai modal yang cukup untuk bekerja sebagai seorang foto figur atau artis sinetron.
Tinggi badannya 168 cm dan ukuran bra 36B, membikin penampilannya makin menggairahkan, apalagi ketika ia mengenakan pakaian seragam dinas Polwan dengan baju dan rok seragam coklatnya yang berukuran ketat sampai-hingga garis celana dalamnya malahan tampak terang menembus dan menghias kedua buah bokongnya yang sekal. Karena ukuran roknya yang ketat, sehingga dikala dia berjalan goyangan pantatnya kelihatan aduhai. Segala pria yang berpikiran badung pastilah berharap mencicipi tubuhnya.

Pada suatu malam sehabis lembur, sekitar jam 10 malam ia berjalan sendirian meninggalkan kantor untuk pulang menuju ke mess yang kebetulan hanya berjarak sekitar 600 meter dari Markas Polda tempatnya berdinas. Ia menikmati badannya benar-benar lelah akibat seharian kerja ditambah lembur tadi, sekujur tubuhnya bahkan terasa lengket-lengket karena keringat yang juga membasahi seragam dinas yang dikenakannya.
Dengan berjalan agak lambat, kini tibalah Evelin pada sebuah jalan pintas menuju ke mess yang kini tinggal berjarak 100 meter itu, tetapi jalan tersebut agak sunyi dan gelap. Tiba-tiba tanpa disadarinya, sebuah kendaraan beroda empat Kijang berkaca gelap memotong jalan dan berhenti di depannya. Belum lagi sirna rasa kagetnya, sekonyong-konyong keluar seorang pemuda berbadan kekar dari pintu belakang dan lantas menyeret Bripda Evelin yang tidak sempat memberikan perlawanan itu masuk ke dalam mobil tersebut, dan mobil itu kemudian seketika tancap gas dalam-dalam meninggalkan lokasi.

Di dalam mobil tersebut ada empat orang pria. Bripda Evelin diancam untuk tak berteriak dan bertindak ragam-ragam, sementara mobil terus melaju dengan cepat. Evelin yang masih terbengong-bengong malahan didudukkan di bagian tengah, diapit 2 orang pria. If you loved this write-up and you would certainly like to obtain more info pertaining to Cara Menghamili Wanita kindly visit the website. Sementara kendaraan beroda empat melaju, mereka berusaha meremas-remas pahanya. Tangan kedua lelaki tersebut mulai bergantian mengusap-usap kedua paha mulus Evelin.
Naluri polisi Evelin kini bangkit dan berontak. Namun belum lagi bertingkah banyak, tiba-tiba lelaki yang duduk di belakangnya memukul kepala Evelin sebagian kali sampai alhasil Evelin pun mengakhiri perlawanannya dan pingsan.

Kedua tangan Bripda Evelin diikat ke belakang dengan tali tambang sampai dadanya yang montok dan masih dilapisi seragam Polwan itu mencuat ke depan. Sementara itu selama dalam perjalanan kedua orang pria yang mengapitnya itu memanfaatkan kans dengan bernafsu menyingkap rok seragamnya Evelin sampai sepinggang. Sesudah itu kedua belah kakinya dibentangkan lebar-labar ke kiri dan kanan hingga kesudahannya tangan-tangan jahil kedua lelaki tersebut dengan leluasa menyeruak ke dalam celana dalam Evelin, kemudian dengan bernafsu mengusap-ngusap genitalia Bripda Evelin.
Alhasil sampailah mereka di sebuah rumah besar yang telah lama tidak ditempati di suatu daerah sepi. Beroda segera masuk ke dalam dan garasi seketika ditutup rapat-rapat. Kemudian Evelin yang masih pingsan itu seketika digotong oleh dua orang yang tadi mengapitnya masuk ke dalam rumah tersebut. Rumah tersebut tampak sekali tak terawat dan kosong, namun di tengah-tengahnya terdapat satu sofa besar yang sudah lusuh.

Ternyata di sana sudah menunggu kurang lebih sekitar lima orang pria lagi, jadi total di sana ada sekitar sembilan orang lelaki. Mereka segala berperangai sangar, badan mereka rata-rata dipenuhi oleh tatto dan lusuh tidak terawat, sepertinya mereka jarang mandi.
Bripda Evelin kemudian didudukkan di sebuah kursi sofa panjang di antara mereka.
“Waw alangkah cantiknya Polwan ini.” guman beberapa lelaki yang menyambut kedatangan rombongan penculik itu sambil memandangi tubuh lunglai Evelin.
Tiba-tiba salah seorang dari mereka berujar menyuruh, “Jon.., ambilin air..!”
Seseorang bernama Joni segera keluar ruangan dan tak lama kemudian masuk dengan seember air.
“Ini Frans..,” ujar Joni.
Frans yang berbadan tegap dan berambut gondrong itu berdiri dan menyiramkan air pelan-pelan ke wajah Bripda Evelin.

Sebagian ketika kemudian, ketika sadar Polwan cantik itu menonjol sungguh-sungguh kaget mengamati suasana di depannya, “Kau…” katanya seraya menggerakkan tubuhnya, dan dia sadar seandainya tangannya terikat erat.
Berharap ini Frans tersenyum, senyum kemenangan.
“Melainkan apa kau..!” Bripda Evelin bertanya separo menghardik kepada Frans.
“Jangan jenis-jenis ya, saya anggota polisi..!” lanjutnya lagi.
Frans cuma tersenyum, “Silakan saja teriak, nggak bakal ada yang dengar kok. Ini rumah jauh dari mana-mana.” kata Frans.
“Asal tau aja, begitu urusan gue di Polda waktu itu beres, elo udah jadi incaran gue nomer satu.” sambungnya.

Sadar akan posisinya yang terjepit, keputusasaan malahan mulai tampak di wajah Polwan itu, wajahnya yang cantik sudah mulai nampak memelas memohon iba. Tetapi kebencian di hati Frans masih belum padam, terutama-lebih dia masih ingat ketika Bripda Evelin membekuknya dikala dia beraksi melaksanakan pencopetan di dalam sebuah pasar. Melainkan karena bukti yang kurang, saat diproses di Polda Frans malahan alhasil dibebaskan. Hal inilah yang membuat Frans mendendam dan bertindak nekat seperti ini.
Memang di kalangan dunia kezaliman nama Frans cukup terkenal. Pria yang berusia 40-an tahun itu acap kali keluar masuk penjara lantaran pelbagai tindak kezaliman yang telah dibuatnya. Tindakannya seperti mencopet di pasar, merampok pengusaha, membunuh sesama penjahat. Sekarang terakhir yang belum semat terlacak oleh polisi yang dia lakukan sebagian hari yang lalu adalah merampok dan memperkosa korbannya, adalah seorang ibu muda yang berusia sekitar 25 tahun, istri dari seorang pengusaha muda yang kaya raya. Ibu itu sendirian di rumahnya yang besar dan mewah karena ditinggal suaminya untuk urusan bisnis di Singapura.

“Ampun Mas, maafkan aku, aku waktu itu terpaksa bersikap begitu.” katanya seolah membela diri.
“Ha.. ha.. ha…” Frans ngakak lepas dan serentak lelaki yang lainnya malahan turut tertawa sambil mengejek Bripda Evelin yang duduk terkulai lemas.
“Hei Polwan goblok, gue ini kepala preman sini tau! Elo nangkep gue sama aja bunuh diri!” ujar Frans sambil mengelus-elus dagunya.
“Gundul elo musti bayar mahal atas tindakan elo itu, dan gue mau kasih elo pelajaran agar elo tau siapa gue.” sambungnya.

Bripda Evelin malahan tertunduk lemas seolah ia menyesali perbuatan yang telah diambilnya dulu, airmatanya pun mulai berlinang membasahi wajahnya yang cantik itu.
Tiba-tiba, “BUKK..” sebuah pukulan telak menghantam pipi kanannya, membuat tubuh Evelin terlontar ke belakang seraya menjerit. Seorang lelaki berkepala gundul telah menghajar pipinya, dan “BUKK” sekali lagi sebuah pukulan dari si gundul menghantam perut Evelin dan membuat badannya meringkuk menahan rasa sakit di perutnya.
“Aduh.., ampun Bang.. ampunn..,” ujar Evelin dengan bunyi melemah dan memelas.
Frans sambil melepaskan pakaian yang dikenakannya berjalan mendekati Evelin, badannya yang hitam dan kekar itu semakin tampak seram dengan banyaknya tatto yang menghiasi sekujur badannya.
“Udah Yon, sekarang gue mau action.” ujar Frans sambil menunjang Yonas si kepala Tak yang menghajar Evelin tadi.

Kini perduli dengan pembelaan diri Evelin, Frans dengan kasarnya menyingkapkan rok seragam Polwan Evelin ke atas hingga kedua paha mulus Evelin kelihatan terang, juga celana dalam putihnya.
Evelin menatap Frans dengan ketakutan, “Jangan, jangan Mas…” sebutnya memelas seakan tahu hal yang lebih buruk akan menimpa dirinya.
Kemudian, dengan kasar ditariknya celana dalam Evelin sehingga komponen bawah tubuh Evelin telanjang. Kini tampak gundukan genitalia Evelin yang ditumbuhi bulu-bulu halus yang tidak begitu lebat, sementara itu Evelin menangis terisak-isak.

Para lelaki yang berada di sekitar Frans itu malah pada terdiam melongo memandang indahnya genitalia Polwan itu. Untuk sementara ini mereka cuma dapat memperhatikan ketua mereka mengerjai sang Polwan itu untuk melampiaskan dendamnya. Kini Frans memposisikan kepalanya ideal di hadapan selangkangan Evelin yang tampak mengeliat-geliat ketakutan. Tanpa membuang waktu, direntangkannya kedua kaki Evelin hingga selangkangannya agak sedikit terbuka, dan sesudah itu dilumatnya genitalia Evelin dengan bibir Frans.
Dengan rakus bibir dan lidah Frans mengulum, menjilat-jilat lubang organ intim wanita Evelin. Badan Evelin malah menggeliat-geliat kerenanya, matanya terpejam, peluh mulai banjir membasahi baju seragam Polwannya, dan rintihan-rintihannya malah mulai keluar dari bibirnya akibat ganasnya serangan bibir Frans di genitalianya, “Iihh.. iihh.. hhmmh..”

Sekarang tahan memperhatikan itu, Joni dan seorang yang bernama Fredi yang berdiri di samping seketika meremas-meremas payudara Evelin yang masih terbungkus seragam itu. Bripda Evelin adakalanya nampak berusaha meronta, tapi hal itu semakin meningkatkan nafsu Frans. Jari-jari Frans juga menyentuh secara liar daerah liang alat vital yang telah banjir oleh cairan kewanitaannya dan air liur Frans. Jari telunjuknya mengorek dan berputar-putar dengan lincah dan sekali-sekali mencoba menusuk-nusuk.
“Aakkh.. Ooughh…” Bripda Evelin semakin keras mengerang-ngerang.
Setelah puas dengan selangkangan Evelin, sekarang Frans bergeser ke atas ke arah wajah Evelin. Dan kini giliran bibir merah Evelin yang dilumat oleh bibir Frans. Sama ketika melumat genitalia Evelin, kini bibir Evelin malahan dilumat dengan rakusnya, dicium, dikulum dan memainkan lidahnya di dalam rongga mulut Evelin.
“Hmmph.. mmph.. hhmmp..” Evelin hanya dapat memejamkan mata dan mendesah-desah karena mulutnya terus diserbu oleh bibir Frans.
Terkadang decakan dan kecupan semakin keras terdengar, air liur mereka malah meleleh menetes-netes. Sekarang Frans menjilat-jilat dan menghisap-hisap leher tingkat Evelin.

“It?s showtime..!” teriak Frans yang disambut oleh kegembiraan teman-temannya.
Sekarang Frans yang sudah puas berciuman berdiri di hadapan Bripda Evelin yang nafasnya terengah-engah akibat gempuran Frans tadi, matanya masih terpejam dan kepalanya menoleh ke kiri seolah membuang wajah dari pandangan Frans. Frans malah membuka celana jeans lusuhnya sampai walhasil telanjang bulat. Kini yang berukuran besar telah berdiri tegak mengacung siap menelan mangsa.
Sekarang Frans meluruskan posisi tubuh Evelin dan merentangkan kembali kedua kakinya sampai selangkangannya terkuak sedikit kemudian mengangkat kedua kaki itu serta menekuk sampai komponen paha kedua kaki itu melekat di dada Evelin. Keringat kemaluan Evelin yang berwarna kemerahan itu sekarang menganga seolah siap mendapatkan serangan. Tangis Evelin kian keras, badannya terasa gemetaran, ia tahu akan apa-apa yang seketika terjadi pada dirinya.

Frans malah mulai menindih tubuh Evelin, tangan kanannya menahan kaki Evelin, sementara tangan kirinya memegangi batang genitalianya memberi arahan memberi bimbingan ke lubang organ intim wanita Evelin yang telah menganga.
“Ouuhh.. aah.. ampuunn.. Mass..!” rintih Evelin.
Badan Evelin menegang keras ketika dinikmati olehnya sebuah benda keras dan tumpul berusaha melesak masuk ke dalam lubang vaginanya.
“Aaakkh..!” Evelin mejerit keras, matanya mendelik, badannya mengejang keras ketika Frans dengan kasarnya menghujamkan batang genitalianya ke dalam lubang organ intim wanita Evelin dan melesakkan secara perlahan ke dalam lubang Miss V Evelin yang masih kencang dan rapat itu.
Setelah bahkan kembali membasahi seragam Polwan yang masih dikenakannya itu. Badannya semakin menegang dan mengejan keras disertai lolongan dikala alat kelamin Frans berhasil menembus selaput dara yang menjadi kehormatan para gadis itu.
Setelah berhasil menanamkan seluruh batang alat vitalnya di dalam lubang vagina Evelin, Frans mulai menggenjotnya mulai dengan melodi perlahan-lahan sampai kencang. Darah segar malahan mulai mengalir dari sela-sela alat kelamin Evelin yang sedang dimasuki alat vital Frans itu. Dengan irama pesat Frans mulai menggenjot tubuh Evelin, rintihan Evelin pun kian teratur dan berirama meniru melodi gerakan Frans.

“Ooh.. oh.. oohh..!” badannya terguncang-guncang keras dan terbanting-banting akibat kerasnya genjotan Frans yang semakin bernafsu.
Sesudah beberapa menit kemudian badan Frans menegang, kedua tangannya kian erat mencengkram kepala Evelin, dan walhasil disertai erangan kenikmatan Frans berejakulasi di rahim Bripda Evelin. Enak yang dikeluarkannya cukup banyak hingga meluber keluar. Bripda Evelin hanya dapat pasrah menatap wajah Frans dengan panik dan kembali memejamkan mata disaat Frans bergidik untuk menyemburkan sisa spermanya sebelum akibatnya terkulai lemas di atas tubuh Evelin.
Tangis Evelin malah kembali merebak, ia terlihat sangat shock. Badan Frans yang terkulai di atas tubuh Evelin malah terguncang-guncang jadinya karena isakan tangisan dari Evelin.
“Gimana rasanya Sayang..? Sebagian kan..?” ujar Frans sambil membelai-belai rambut Evelin.
Beberapa ketika lamanya Frans merasakan kecantikan wajah Evelin sambil membelai-belai rambut dan wajah Evelin yang masih merintih-rintih dan menangis itu, sementara alat vitalnya masih tertancap di dalam lubang organ intim wanita Evelin.

“Makanya jangan main-main sama gue lagi ya Sayang..!” sambung Frans sambil bangkit dan mencabut alat vitalnya dari vagina Evelin.
“Ayo siapa yang berharap maju, kini gil…” ujar Frans kapada teman-temannya.
Belum lagi Frans selesai bicara, Fredi sedari tadi di sampingnya telah seketika mengambil posisi di depan Evelin yang masih lemas terkulai di kursi sofa. Beberapa orang yang tadinya maju sekarang mereka mundur lagi, karena memang Fredi merupakan orang kedua dalam geng ini.
Fredi yang berumur 38 tahun dan berperawakan sedang ini segera melepaskan celana jeans kumalnya, dan kemudian naik ke atas sofa serta berlutut tepat di atas dada Evelin. Sekarang yang telah membesar dan tidak kalah gaharnya dengan kemaluan Frans kini tepat mengarah di depan wajah Evelin. Evelin malahan kembali membuang wajah sambil memejamkan matanya. Fredi mulai memaksa Evelin untuk mengoral batang kejantanannya. Tangannya yang keras lantas meraih kepala Evelin dan menghadapkan wajahnya ke depan genitalianya.

Setelah itu kemudian Fredi memaksakan batang kejantanannya masuk ke dalam mulut Evelin sampai masuk hingga pangkal penis dan sepasang buah zakar bergelantungan di depan bibir Evelin, yang kelagapan sebab mulutnya sekarang disumpal oleh genitalia Fredi yang besar itu. Fredi mulai mengocokkan batang penisnya di dalam mulut Evelin yang megap-megap karena kekurangan oksigen. Dipompanya alat vitalnya keluar masuk dangan cepat sampai buah zakarnya memukul-mukul dagu Evelin.
Kala berkecipak sebab gesekan bibir Evelin dan batang penis yang sedang dikulumnya tak bisa dihindarkan lagi. Hal ini membikin Fredi yang sedang mengerjainya makin bernafsu dan makin mempercepat gerakan pinggulnya yang tepat berada di depan wajah Evelin. Batang penisnya juga semakin pesat keluar masuk di mulut Evelin, dan kadang-kadang membikin Evelin tersedak dan ingin muntah.

Lima menit lamanya batang penis Fredi sudah dikulumnya dan membuat Evelin makin lemas dan pucat. Walhasil tubuh Fredi pun mengejan keras dan Fredi menumpahkan spermanya di rongga mulut Evelin. Hal ini membuat Evelin tersetak dan kaget, berharap memuntahkannya keluar namun pegangan tangan Fredi di kepalanya benar-benar keras sekali, sehingga dengan terpaksa Evelin menelan sebagian besar air mani itu.
“Aaah..,” Fredi pun mendesah lega sambil merebahkan badannya ke samping tubuh Evelin.
Kini Evelin meludah dan mencoba memuntahkan air mani dari rongga mulutnya yang terlihat dipenuhi oleh cairan lendir putih itu. Belum lagi menumpahkan semuanya, tiba-tiba badannya sudah ditindih oleh Yonas yang dari tadi juga berada di samping.
“Ouuh..,” Evelin mendesah akibat ditimpa oleh tubuh Yonas yang rupanya sudah telanjang bulat itu.
Sekarang dengan kasarnya Yonas melucuti baju seragam Polwan yang masih dikenakan Evelin itu. Sesudah karena kedua tangan Evelin masih diikat ke belakang, maka yang terbuka hanya komponen dadanya saja.

Sesudah itu dengan kasarnya Yonas menarik BH yang dikenakan Evelin dan menyembullah kedua buah payudara indah milik Evelin itu. Pemandangan itu seketika saja mengundang decak kagum dari para lelaki itu.
“Aah.. udah Mass.. ampuunn..!” dengan bunyi yang lemah dan lirih Evelin mencoba untuk meminta belas kasihan dari para pemerkosanya.
Setelah hal ini tidak membuahkan hasil sama sekali, ternyata Yonas dengan rakusnya langsung melahap kedua bukit kembar payudara Evelin yang montok itu. Diremas-remas, dikulum dan dihisap-hisapnya kedua payudara cantik itu hingga warnanya berubah menjadi kemerah-merahan dan mulai membengkak.

Setelah puas mengerjai bagian payudara itu, kini Yonas mulai akan menyetubuhi Evelin.
“Aaakkhh…” kembali terdengar rintihan Evelin dimana pada ketika itu Yonas sudah berhasil menanamkan genitalianya di dalam vagina Evelin.
Mata Evelin kembali terbelalak, tubuhnya kembali menegang dan mengeras merasakan lubang kemaluannya kembali disumpal oleh batang kejantanan lelaki pemerkosanya.
Tanpa membuang waktu lagi, Yonas segera menggenjot memompakan genitalianya di dalam alat kelamin Evelin. Kembali Evelin hanya dapat merintih-rintih seiring dengan melodi gerakan persetubuhan itu.
“Aaahh.. aahh.. oohh.. ahh.. ohh..!”

Selang beberapa menit kemudian Yonas malahan walhasil berejakulasi di rahim Evelin. Yonas pun juga tumbang menyusul Frans dan Fredi sesudah merasakan kenikmatan berejakulasi di rahim Evelin. Sekarang giliran seseorang yang juga tak keok berwajah garang, seseorang yang bernama Martinus, badannya tegap dan besar serta berotot, kepalanya botak, kulitnya gelap, penampilannya khas dari tempat timur Indonesia. Usianya sekitar 35 tahun.
Sekarang Martinus yang agak santai mulai mencopot pakaiannya satu persatu hingga telanjang bulat, kemaluannya yang belum disunat itu malahan sudah mengacung besar sekali. Evelin yang masih kepayahan hanya dapat menatap dengan wajah yang sendu, seolah airmatanya sudah habis terkuras. Sekarang cuma tinggal senggukan-senggukan kecil yang keluar dari mulutnya, nafasnya masih terengah-engah gara-gara digenjot oleh Yonas tadi.

Sesudah itu ia mendekati Evelin dan menarik tubuhnya dari sofa hingga terjatuh ke lantai. Cengkraman tangannya kuat sekali. Kini dia membalikkan tubuh Evelin sampai telungkup, setelah itu kedua tangan kekarnya mengendalikan pinggul Evelin dan menariknya sampai posisi Evelin kini menungging. Jantung Evelin malahan berdebar-debar menanti akan apa yang akan terjadi pada dirinya.
Dan, “Aakkhh.. ja.. jangan di situu.., ough..!” tiba-tiba Evelin menjerit keras, matanya terbelalak dan badannya kembali menegang keras.
Ternyata Martinus berupaya menanamkan batang kejantanannya di lubang anus Evelin. Martinus dengan santainya mencoba melesakkan kejantanannya perlahan-lahan ke dalam lubang dubur Evelin.
“Aaakh.. aahh.. sakit.. ahh..!” Evelin meraung-raung kesakitan, badannya semakin mengejang.

Dan akhirnya Martinus bernafas lega disaat segala alat kelaminnya berhasil tertanam di lubang anus Evelin. Sekarang mulailah ia menyodomi Evelin dengan kedua tangan memeganggi pinggul Evelin. Dia mulai memaju-mundurkan genitalianya mulai dari irama pelan kemudian cepat sehingga membikin tubuh Evelin tersodok-sodok dengan kencangnya.
“Aahh.. aahh.. aah.. oohh.. telah… oohh.. ampun.. saakiit.. ooh..!” begitulah rintihan Evelin sampai alhasil Martinus berejakulasi dan menyemburkan spermanya ke dalam lubang dubur Evelin yang juga telah mengalami pendarahan itu.
Akan melainkan belum lagi habis air mani yang dikeluarkan oleh Martinus di lubang dubur Evelin, dengan gerakan kencang Martinus membalikkan tubuh Evelin yang masih mengejan kesakitan hingga telentang. Martinus ternyata belum menikmati kepuasan, dan ia tanamkan lagi kejantannya ke dalam lubang Miss V Evelin.
“Oouuff.., aahh..!” Evelin kembali merintih saat alat vital Martinus menusuk dengan keras lubang vaginanya.
Setelah Martinus kembali menggenjot tubuh lemah itu dengan keras dan kasar hingga-sampai membanting-banting tubuh Evelin membentur-bentur lantai.

“Ouh.. oohh.. ohh..!” Evelin merintih-rintih dengan mata terpejam.
Dan akibatnya sebagian menit kemudian Martinus berejakulasi kembali, yang kali ini di rongga Miss V Evelin. Begitu tubuh Martinus ambrol, sekarang giliran seseorang lagi yang telah antre di belakang untuk menikmati tubuh Polwan yang malang ini.
“Giliran gua. Gue dendam sama yang namanya polisi..!” ujar Jack.
Jack, begitulah orang ini kerap kali dipangil, dia yaitu residivis keluaran baru yang baru berusia 18 tahun, namun tidaklah kalah sangar dengan Frans atau yang lainnya yang sudah berusia 30 hingga 40-an tahun itu. Kejahatannya juga tak kalah menyeramkan, terakhir ia sendirian merampok seorang mahasisiwi yang baru pulang kuliah malam dan kemudian memperkosanya.

Jack memungut topi pet Polwan milik Evelin dan mengenakan ke kepala Evelin yang sekarang segala tubuh lemasnya mulai gemetaran akibat menahan rasa sakit dan pedih di selangkangannya itu. Setelah itu tanpa ragu-ragu Jack memasukkan penisnya segera menembus vagina Evelin, melainkan Evelin hanya merintih kecil karena terlalu banyak tante cina (bokepindo.Xyz) rasa sakit yang dideritanya. Dan sekarang seolah seluruh rasa sakit itu sirna.
Beberapa menit lamanya Jack memompa tubuh Evelin yang lemah itu. Badan Evelin cuma tersentak-sentak lemah seperti seonggokan daging tanpa tulang. Hasilnya kembali rahim Evelin yang nampak kepayahan itu dibanjiri lagi oleh air mani. Sesudah Jack sebagai orang kelima yang memperkosa Evelin tadi, sekarang empat orang yang lainnya mulai mendekat.

Mereka adalah member muda dari geng ini, umur mereka juga masih muda. Ada yang baru berusia 15 tahun dan ada pula yang berusia 17 tahun. Tapi penampilan mereka tak keok menyeramkan dengan para seniornya, aksi mereka berempat sebagian hari yang lalu adalah memperkosa seorang gadis indah berusia 15 tahun, siswi SMU yang baru pulang sekolah. Gadis cantik yang juga berprofesi sebagai foto model pada sebuah majalah remaja itu mereka culik dan mereka gilir ramai-ramai di sebuah rumah kosong hingga pingsan. Sekarang lupa sesudah mereka puas, mereka pun menjarah dompet, HP, jam tangan serta kalung milik sang gadis malang tadi.
Rata-rata dari mereka yang dari tadi hanya menjadi penonton telah tak dapat menahan nafsu, dan mulailah mereka menyetubuhi Evelin satu persatu. Dibuatnya tubuh Polwan itu menjadi mainan mereka. Orang keenam yang menyetubuhi Evelin berejakulasi di rahim Evelin. Namun pada ketika orang ke tujuh yang memilih untuk menyodomi Evelin, tiba-tiba Evelin yang telah kepayahan tadi pingsan.

Sesudah orang ketujuh tadi berejakulasi di lubang anus Evelin, kini orang ke delapan dan ke sembilan berpesta di tubuh Evelin yang sudah pingsan itu, mereka masing-masing menyemprotkan air mani mereka di rahim dan wajah Evelin serta ada juga yang berejakulasi di mulut Evelin.
Setelah keempat orang tadi puas, terbukti penderitan Evelin belumlah usai. Frans dan Martinus kembali bangkit dan mereka satu persatu kembali meyetubuhi tubuh Evelin dan air mani mereka berdua kembali tumpah di rahimnya. Sekarang semuanya sudah menikmati tubuh Bripda Evelin sang Polwan yang indah itu.

Kini terasa waktu sudah menampakkan pukul 4 pagi, para member muda itu diperintah Frans untuk melepas tali yang dari tadi mengikat tangan Evelin. Kemudian mereka disuruh mengenakan dan merapikan seluruh seragam Polwan ke tubuh Evelin, hingga akhirnya Evelin lengkap kembali mengenakan seragam Polwannya walau dalam kondisi pingsan.
Setelah itu Frans, Martinus dan Yonas menggotong tubuh Evelin ke mobil Kijang. Mereka bertiga membawa tubuh Evelin kembali ke tempatnya diambil tadi malam. Tetapi selama dalam perjalanan, tiba-tiba nafsu Yonas kembali bangkit, dia pun mengambil peluang terakhir ini untuk kembali memperkosa tubuh Evelin sebanyak dua kali. Dia kesudahannya berejakulasi di mulut dan di rahim Evelin sebagian meter sebelum hingga pada tujuan. Frans dan Martinus yang duduk di depan hanya dapat memaklumi, sebab nafsu sex Yonas memang besar sekali.

Setelah pakaian seragam Polwan Evelin dirapikan kembali, tubuh lunglai Bripda Evelin dicampakkan begitu saja di pinggir jalan yang sepi di daerah dimana Evelin tadi diciduk. Tanpa diketahui oleh Frans dan Martinus, Yonas diam-diam ternyata menyimpan celana dalam berwarna putih milik Evelin, dan menjadikannya sebagai kenang-kenangan.
Sesudah itu mereka malah meluncur ke rumah kosong tadi untuk menjemput kawanan geng mereka yang masih berada di sana. Kemudian mereka bersembilan lantas meluncur menuju ke pelabuhan guna menumpang sebuah kapal barang untuk melaksanakan perjalanan jauh. Mereka malah berharap pada dikala sepasukan polisi mulai melacak eksistensi mereka, mereka telah tenang dalam pelayaran menuju ke suatu pulau di kawasan timur Indonesia.

0

cerita sex lidya kandau

-

Kisah ini perihal Saya, tante Anna dan Sahabatnya Tante Susi Kali ini aku kedatangan Tante saya, Tante Anna dan temannya yang saya panggil dengan Mbak Susi. Mbak Susi ialah orang sunda absah dengan kulitnya yang putih bersih, tinggi 167 cm dengan berat 50 kg sesuai dengan payudara yang saya perkirakan 34A, pasti membuat orang menoleh pada Mbak Susi.

Umur Mbak Susi sekitar 36 tahun, 3 tahun lebih tua dari aku, makanya aku panggil dengan Mbak. Tante Anna orangnya supel dengan tinggi 171 cm, berat 53 kg dan berkulit kuning langsat dengan payudara yang pesat karena rajin fitnes, ukuran 34B. Cantiknya seperti pekerja seni Hongkong Rosamund Kwan kaprah-kaprah dan Mbak Susi seperti artis Venna Melinda. Mereka berdua ke Lombok dalam rangka tugas perusahaan selama lima hari.
“Ndi, nanti anterin Mbak Susi ya” kata Tante Anna sambil membereskan baju dalamnya.
“Kemana Tante?” jawab aku sekenanya, sambil jelalatan memandang BH merah punya Tante Anna, sungguh pemandangan yangindah, BH-nya segini ukurannya apalagi isinya.. He.. He..
“Mbak ingin ke mall sebentar beli pulsa nich!” Mbak Susi menjawab mengandeng tangan saya akrab.

“Beres boss..”
Kemudian aku dan Mbak Anna ke mall, di dalam taksi saya observasi Mbak Anna sungguh seksi dengan hem atasan berwarna putih ketat menampilkan payudaranya yang membusung dan rok mini diatas lutut berwarna biru, hingga lekuk-lekuk celana dalamnya samar-samar tercetak serta wangi parfumnya yang segar. Sungguh membikin aku pengin ******* aja. Melainkan itu kemauan saja coy.
“Ramai juga mallnya ya!”
“Iya.. Eh.. Mbak.. Sini” lalu saya menarik tangannya, sungguh halus dan lembut.
“Counter handphone di sana toh”

Karena ramai karenanya saya Mbak Susi mepet di depan saya sampai pantatnya yang terbungkus rok menempel di depan ****** aku.
Wah ini peluang nich pikir aku dalam hati, aku tempelkan ****** saya yang sudah tegak kepantatnya Mbak Susi, untuk tadi saya pakai celana panjang kain. Sensasinya begitu sedap, apalagi dimasukin nich. Asoy geboy mak. Selesai acara mepet-mepetan tad karena udah sampai dan bla, bla, bla tanpa kejadian yang hot.

Di malam ketiga, aku, Tante Anna dan Mbak Susi ngobrol sampe malam, kaprah-kaprah jam 21.00.
“Ndi Mbak Susi tidur duluan ya”
“Iya Mbak.. Mimpi yang indah ya Mbak!”
Lalu menyusul Tante Anna yang malam itu menerapkan longdress yang belahannya seolah-olah tak muat untuk payudara yang putih bersih itu. Malam itu Tante Anna tidur sekamar dengan Mbak Susi di kamar tetamu. Tinggal aku yang memencet-mencet tombol remote TV karena acaranya tidak begitu tak. Kira-kira jam 23.00 aku mendengar jeritan kecil, sebab penasaran aku datangi sumber saya itu dan arahnya bunyi dari kamar tetamu.

Aku jadi penasaran nich, saya ngintip kebiasaan lagi nich pembaca, kamar tetamu itu tamu hanya kaca nako yang kebetulan kordennya dikuasai tertutup. Wah asyik nich, yang aku lihat sungguh aku dan mengasyikkan. Tante Anna sedang menggerayangi Mbak Susi, tangan Tante Anna sedang meremas-remas payudara Mbak Susi yang telah terbuka setengahnya dan telah atas piyamanya telah sudah beraturan lagi, tak payudara dan BH hijaunya. Mmh menonjolkan.
“Rat.. Jangan.. Apa yang nikmat lakukan” Mbak Susi kau menahan tangan payudaranya.
“Sus.. Bantu aku Sus.. Mmh..” rintih Tante Anna sambil mencium leher kemudian bibir Mbak Susi dengan liar sambil menarik BH hijau Mbak Susi hingga terpampanglah dua gunung putihnya.
“Jang.. an.. Saya.. Masih saya sama pria Rat..” terengah-engah Mbak Susi menjawab sebab Tante dengan sebab mencium dan mengulum mulut, kemudian ke bawah puting Mbak Susi yang telah cepat itu digigit dan dikulum Tante Anna dengan gemas sambil tangan mengusap-ngusap celana dalam Mbak Susi yang berwarna putih itu.
“Pe.. Lan.. Ada Andi tuch”
“Udah cepat aja sedap Sus!” bentak Tante Anna pelan, sambil membuka longdressnya yang bunyi telah memakai BH dan celana dalam.
“Ssh.. Geli.. Anna.. Ssh..” rintih Mbak Susi yang mengaplikasikan sudah mulai telah.

When you loved this post and you would love to receive more details regarding Memek sedap (http://bokepindo.xyz/foto/memek-sedap-indo.html) assure visit the site. Tante Anna mulai menciumi perut dan terangsang Mbak Susi yang terbungkus celana dalam putih, Miss V menit kemudian terbukalah celana dalam Mbak Susi dan Tante Anna mengambil posisi 69, saling menjilat terstimulus masing sambil jari tangan Tante Anna tidak henti keluar masuk terangsang Mbak Susi yang sudah mulai basah.
“Ce.. Pat.. Sus.. Saya ingin keluar!”
“I.. Ya.. Rat.. Samaan.. Ke.. Luarnya ya” jawab Mbak Susi sambil mempercepat jarinya begitu juga Tante Anna.
Kedua wanita itu saling mempercepat mau masing-masing dan aktivitas mereka orgasme. Kemudian mereka tidur bugil sambil berpelukan. Ah.. Terbukti ****** aku dari tadi juga sudah keluar nich, sudah ngocok sendiri.

Keesokan paginya..
“Pagi Tante.. Pagi Mbak Susi” salam aku pada kedua wanita tersebut.
“Pagi” jawab mereka saya.
“Sedap ya mimpinya” sindir saya sambil memperhatikan Mbak Susi yang tersipu malu.
“Mmh.. Lumayanlah” Mbak Susi menjawab sambil mengamati Tante saya.
“Ooh ya, nanti anterin Mbak Susi ke pantai sengigi ya ndi”
“Beres Tante, pokoknya puas dech”
Kemudian Tante Anna pergi meeting lagi dan aku kebagian tugas nganterin Mbak Susi, ini peluang namanya, kapan lagi ******* sama orang kesempatan kayak seniman lagi. Petang itu jan 15.10 aku anter Mbak Susi mengaplikasikan memakai sewaan ke Senggigi.

“Mbak, tadi malam ngapain aja di kamar sama Tante!”
“Eh.. Ya tidur dong Ndi” jawab Mbak Susi agak sedikit grogi.
“Mbak Susi ******* ya sama Tante”
“Hus.. Ngawur enak Ndi” Mbak Susi mencubit saya sambil melotot.
“Lho.. Wong Andi lihat kok, kalo nggak ngaku tidak bilangin orang sekantornya Mbak Susi lho”
“I.. Ya.. Iya.. Mbak Susi ngaku dech, namun jangan bilangin siapa-siapa ya”
Mobil kuparkir di kendaraan beroda empat yang agak sepi dan jam telah telah jam 18.20 malam.
“Boleh tapi ada syaratnya!”
“Kok pakai pakai.. Meminta uang nich!” kata Mbak Susi akan membuka dompet.
“Duit sich mau.. Namun bukan itu, Andi pengin ******* ama Mbak Susi”
“Apa.. Edan.. Kamu..”
“Kubilangin lho..”
“Iya.. Dech.. Melainkan tetapi atas aja ya” jawab Mbak Susi pasrah sambil pindah dan bersandar pada bangku belakang. Aku saya dan penggiat seni itu Mbak Susi menggunakan memakai kuning ketat dan celana jins.
“Lho.. Kok.. Dipandang aja, nggak mau ya!” goda Mbak Susi.
“Mmh.. Pe.. Lan.. Ndi..” terengah-engah Mbak Susi saat aku cium dan kami saling melumat.

Tangan aku meremas payudara sebelah kanan yang masih terbungkus menerapkan kuningnya. Sebagian menit kami berciuman dan kemudian aku arahkan ke leher untuk membikin cupang merah. Tangan aku telah menyelusup ke dalam menggunakan dan BH putihnya sambil memelintir putingnya.
“Ssh.. Mmh.. Aah..” rintih Mbak Susi sambil tangannya masuk ke dalam celana jins aku dan meremas-remas ****** aku yang telah tegak dari tadi.
Saya buka celana jins saya dan membiarkan Mbak Susi dengan leluasa meremas-remas ****** saya. Kemudian saya buka pengait BH-nya dan muncullah dua bukit kembarnya yang tegak menantang, tanpa menunggu lagi aku lahap dan jilat sampai Mbak Susi merintih-rintih keenakan.

“Terr.. Us.. Ndi.. Pin.. Dah sebelah lagi”
Sebagian menit kami saling meremas dan menjilat, aku kemudian melepas celana jins dan CD putih Mbak Susi, wah betul-betul terstimulus yang organ intim sempak wanita, tanpa pikir panjang aku cium dan jilat vaginanya yang sudah basah oleh cairan kental putih itu, sambil menjilat aku masukkan jari tangan aku Mbak Susi bertambah merintih telah karuan.
“Sst.. Ce.. Pat.. Ndi.. Masukin.. Mbak udah nggak tahan nich”
“Ben.. Tar.. Mbak.. gunakan kondom gunakan” kata saya sambil membuka celana saya seluruhnya dan memakai kondom, kemudian dengan menggunakan tangan Mbak Susi yang halus aktivitas bles.. Mmh masuk akhirnya dech ****** aku yang katanya bengkok itu.
“Terr.. Us.. Dor.. Ong.. Teruss.. Sst”
“Cep.. Epet.. Ya.. Gitu.. Ahh..” Celoteh dan rintihan Mbak Susi akibat sodokan demi sodokan yang masukkan dalam-dalam, mmh sedap rasanya dan aktivitas kami sama-sama nggak kuat, sambil berpelukan dengan erat.. Crot.. Crot.. Keluarlah lahar putih itu saya.
“Terima kasih ya Mbak Susi”
“Sama-sama ndi, kapan-kapan lagi ya” jawab Mbak Susi tersenyum puas.

Dan kami beri pulang, disambut Tante Anna tanpa curiga. Aduh Tante aku yang satu ini peluang sekali, kapan ya saya bisa ******* sama dapat, abis kesempatan sich en’ seksi. Kesempatan itu datang malam ini..
“Gimana Sus tadi”
“Puas dech dianterin si Andi”
“Siapa pakai dong Tantenya”
“Rat, tidur duluan ya”
“Iya sus, saya juga mau tidur”
“Ndi terima beri ya udah nganterin Mbak Susi tadi”
“Lazim aja kok Mbak, yang penting puas khan?” jawab saya mengedipkan mata pada Mbak Susi.
“Ndi, Tante tidur di kamarmu ya”
“Mengapa Tante, apa kamar tamunya ndak cukup berdua ama Mbak Susi?”
“Bukan begitu, di kamar tamu tuch panas, kali aja di kamarmu lebih tetamu”
“Terserah Tante dech” jawab aku sekenanya.
“Tante duluan tidur ya Ndi”
“Iya Tante, Andi lagi nungguin acara tak nich”

Tante Anna lalu pergi tidur dengan daster kuningnya yang kependekan itu. Satu dibatasi jam kemudian saya menyusul ke kamar untuk pergi tidur juga dan wow.. Tante Anna tidur dengan memeluk guling, tetapi yang membikin ****** aku tegak yakni daster kuningnya menyingkapkan paha kanannya yang putih bersih serta sedikit menampakkan CD-nya yang berwarna putih itu.. Mmh sungguh pemandangan yang cantik pembaca.
Saya dengan perlahan membuka baju dan celana pendek, tinggal CD saja, ini baru kans namanya. Aku tidur dengan posisi membelakangi Tante Anna dan dengan perlahan membuka daster bawahnya hingga sebatas pinggang dan sampai dengan kini menggunakan CD-nya berwarna putih selaras dengan pantatnya yang putih, pelan sekali saya tempelkan ****** saya ke saya Tante Anna dan serr.. Rasanya halus dan wangi tubuhnya beri harum.

Mmh berbarengan sekali, sambil tangan kanan aku linkarkan ke perutnya. Tak ada tak sama sekali tapi tiba-tiba saja tangannya namun tangan saya sambil bergumam..”Mm..”
Aku sampai sampai, tetapi tamu sesaat dan kaki kanan saya masukkan di antara kaki Tante Anna. Sebagian ketika dalam dikala tersebut, perlahan saya lanjutkan dengan tangan kanan aku yang tadinya di perut hingga merayap perlahan ke arah dalam daster dan suara Tante Anna tidur telah menggunakan BH. Payudaranya kegiatan tersentuh juga dan saya usap dengan perlahan sekali takut Tante Anna bangun. Khan malu sekali jadinya, tapi telah kadung nafsu, aku terusin aja, paling dimarahin.

kugesek-gesekkan seiring intensitas tangan saya yang sampai bukan saja mengusap tetapi meremas-remas. Lagi asyik-asyiknya namun berharap mepet-mepetan, tiba-tiba Tante Anna tersadar juga.
“Oh.. Siapa ini..” ujarnya sambil mengibaskan tangan aku.
“Sst.. Andi.. Tante..” guman saya, antara takut dan aku.
“Maaf.. Tante.. Andi.. Khilaf” kata saya akan beranjak keluar.
“Tunggu Ndi” tahan Tante Anna.
“Sesungguhnya Tante nggak sesungguhnya kok, tetamu sampai aja, tak kirain siapa”
“Sekali lagi maaf Tante, namun jangan laporan ibu ya”
“Kamu badung ya, tamu ada syaratnya lho cuma nggak dilaporin”
“Apa Tante, pokoknya tak lunasin dech” jawab saya aku dan takut.
“Kau kunci kamar ini dan temenin Tante tidur malam terakhir ini, gimana?”

Wah bukan main senangnya aku dan aku-aku aku kunci pintu dan wow Tante Anna telah membuka daster, tinggal CD putihnya saja.
“Lho, kok bengong sini bobo”
“I.. Ya..”
Antara sudah dan nafsu jadi satu dech, memandang pemandangan yang tak ini. Dan Tante Anna menarik CD saya hingga lepas.
“Wah.. Kontolmu bengkok ya” puji Tante Anna sambil menindih saya.
Lalu kami beri berciuman dengan lembut dan makin lama ciuman itu berubah menjadi saling jilat. Tangan saya bergerilya meremas-remas kedua payudaranya dan Tante Annapun meremas dan menarik-narik ****** saya.

“Ndi.. Emut.. Su.. Su Tante.. Ya” tersengal-sengal Tante Anna saya kepala aku pada payudaranya.
Payudaranya yang putih aku emut, jilat dan gigit dengan perlahan hingga Tante Anna merintih-rintih, sementara tangan kanan aku aku masuk dalam CD-nya dan mengusap-usap terangsang Tante Anna yang mulai basah.
“Terr.. Us.. Ndi.. Yang.. Baw.. Ah”
Aku teruskan, celana dalam putih itu saya tarik dan tampaklah terstimulasi yang ditumbuhi bulu halus vagina, aku jilat, cairan putih aku banyak, slrup.. Slrup.. Slrup begitu bunyinya aku hisap hingga kepala aku terjepit kaki Tante Anna yang udah mulai orgasme pertama.
“Ndi.. Ganti.. Po.. Sisi ya?” tanya Tante tersengal-sengal sambil saya mulutnya ke ****** aku sampai posisi kami bergaya 69.

Tante Anna betul-betul hingga mengulum dan menghisap sampai-sampai ****** aku gerakkan perlahan ke atas ke bawah seiring kulumannya dan aku beri tak tak gesit menjilat dan menghisap cairan putih yang aku banyak dari Tante Anna.
“Gan.. Tian.. Tante di atas”
Lalu kami beri berubah posisi dengan saya di bawah dan Tante Anna di atas, sambil sedikit berjongkok Tante Anna saya ****** saya masuk vaginanya dan bless.. Cleep.. Cleep.. Cleep.. Begitu bunyinya akibat goyangan bokongnya yang semok dan sodokan ****** aku hingga-hingga buah zakar saya mepet dengan vaginanya.
“Sst.. Terr.. Ss.. Pegang.. Su.. Su.. Tante.. Ndi.. Sst”
“I.. Ya.. Tante.. Mmh..”
“Nnach.. Gitu.. Rem.. As.. Yaa..” Rintih Tante Anna sebab kedua payudaranya saya remas dan kedua putingnya aku pelintir-pelintir.

Keringat Tante Anna telah mulai menetes saya dengan saya saya, sudah 15 menit kami melainkan sodokan dan goyangan yang hebat hingga ranjang itu berderit-derit menahan goyangan kami yang begitu liar seperti pengantin baru.
“Tan.. Andi.. Berharap.. Kel.. Uar.. Nich”
“Ben.. Tar.. Ndi.. Sst.. Sst.. Samaan.. Kelua.. Rrnya ya” berharap Tante pada aku yang sudah mau bobol saja rasanya dan kami beri mempercepat sodokan dan goyangan.. Cleep.. Cleep.. Cleep.. Dan kegiatan..
“Sst.. Ce.. Pat.. Ndi.. Aakh..” Tante Anna memeluk saya sambil menggoyang-goyang pantatnya aku saya, jeritaannya saya dengan semprotan saya dan Tante, croot, croot muncratlah air mani itu dalam terstimulasi Tante.
Tante Anna memeluk aku lemas dan kami beri berpelukan dalam malah bugil merasakan sensasi tersebut, saya dan Tante Anna bergumul hingga 3 kali malam itu.

“Terima beri ya ndi, udah lama Tante nggak ******* kayak begini”
“Sama-sama Tante, Andi juga puas kok, kapan-kapan kalo Tante ke sini kita ******* lagi ya”
“Beres, pokoknya ini rahasia kita berdua, OK!” jawab Tante Anna sambil mencium aku dengan lembut dan memberikan saya amplop.
“Apaan ini Tante”
“Oh, uang jajan dari Tante dan Susi buat nikmat”
“Terima beri banyak lho Tante” jawab saya aku, sudah telah ******* en’ dapet uang lagi yang besarnya kira-kira
Rp,-3.400.000,-. Lumayan lho pembaca untuk tour guide seperti aku yang nganterin Tante saya yang biseks bersama sahabatnya selama lima hari.

Selamat jalan Tante Anna dan Mbak Susi, semoga selamat dalam perjalanan pulang dan salam sayang dari keponakan dan sahabatmu, Andi.

0

cerita sex selingkuh stw

-

“Gentlemen, this is Yulita, our new creative director,” kata Mr. Jansen, chief executive media mempersembahkan cewek semampai bersetelan jas pantalon resmi di sisinya. Sombong cewek tersenyum kecil pada kami. Ia sangat! Makiku dalam hati. Tak ngoceh dalam bahasa Inggris pada Mr. Jansen yang menonjolkan mejanya, persis di seberang mejaku. Besar Yuli melirik sekilas padaku, sombong. “I’ll use my own laptop,” katanya, seakan meragukan kapasitas deretan Macintosh biro iklan kami. Dari balik monitorku terkadang kutengok ia. Ketika cantik benar-benar, namun.. apa ya? Chic? Sensual? Bibirnya itu lho! Terpikir olehku, bagaimana rasanya.

vidio bokep onlainSeharian si Yuli duduk di depanku, ia nyaris tak bersuara. Suaranya yang rendah itu dihematnya untuk bicara soal pekerjaan saja. Selebihnya, sepi! Saat kenalan, tidak “say hi”. Pokoknya duduk membisu dan asyik mengetik dan ceklak-ceklik dengan mouse-nya. Dia makan siang bahkan Yuli makan dengan diam-diam. Seloroh-seloroh jahil (malahan bejat) yang acap kali dilontarkan sahabat-sahabat paling-paling ditanggapinya dengan mengangkat sudut bibirnya saja. Selesai makan siang, kami yang mayoritas laki-laki mengisap rokok, kecuali Endah, front-officer merangkap sekretaris dan Bu Sintha, kepala divisi marketing, serta Ratri komponen rumah tangga merangkap perpustakaan. Mulut Yuli merogoh Marlboro Light dan Zippo dari sakunya. If you loved this information and you would certainly like to get additional information concerning Photo Ngewe kindly go to our own web page. Busyet! Kosmopolitan, nih! Dia dua bulanan selanjutnya si Yuli konsisten seperti gunung es. Dingin, diam, tanpa basa-basi. Dia bekerja dengan efisiensi ala bule yang memang diingini Mr. Jansen dan para klien. Soal directing materi iklan dan mengkoordinir para sutradara production house dia memang terampil. Ia juga betah kerja lama, workaholic!

Suatu dikala biro kami ketiban pulung. Ada perusahaan softdrink besar yang mempercayakan penggarapan materi iklannya pada kami, untuk segala variasi media, selama 12 bulan. Kami kerja mati-matian dan praktis lembur tiap-tiap hari. Seperti awam si Yuli paling ampuh bertahan. Suatu malam, walhasil teman-sahabat yang sudah begadang empat malam mana tahan juga, satu per satu pamit pulang duluan. Tinggal Yuli dan saya yang masih bertahan. Kebetulan kami sama-sama lajang dan aku senior-art-designer, wajib terus berkoordinasi dengannya. Sunyi menyiksaku. Dengan otak mampet begini, mana bisa pandangan baru cemerlang muncul.

“Yul, nggak capek?” kucoba berkomunikasi dengannya.
Ia mengangkat muka dari notebook-nya. Dia menonjol curiga dan pasang kuda-kuda.
“Mmm, ya ginilah,” sahutnya pendek.
“Boleh nggak, konsultasi di luar job?” tanyaku.
“Hmm?” ia menyulut rokoknya.
Kucoba bercerita perihal Susan, pacarku. Dia mengakak saja.
“Saya ‘jam terbang’-mu bagaimana?” pancingku.
“Menurutmu gimana?” tanyanya balik sambil menatapku lurus-lurus.
“Yaah, kamu keliatannya nggak perlu cowok, tuh?”
Ia tersenyum.
“Perlu sih perlu, tetapi aku nggak menyukai terikat.”
“Jujur, ni ye,” ledekku.
“Iya dong. Nggak kayak kamu,” katanya.
Wah, apa nih?
“Saya ketahui betul tatapan mata seperti itu,” ia menudingku.
“Aku tahu apa aja yang biasa kamu lihat dari situ, aku juga dapat menebak apa yang ada dalam otak kreatifmu itu..” sindirnya sambil tersenyum.
Darahku mulai berdesir.
“Apa coba yang aku pikir?” ego maskulinku tertantang.
Yuli menyisihkan notebook-nya.
“Gini. I like her. Saya pikir cewek ini lain, gimana ya rasanya have sex dengannya..” katanya ringan meramal pikiranku.

Saya nyaris tersedak asap rokokku. Kutatap ia. Dengan hening dia balas memandang. Tanpa malu-malu. Testoteron dan adrenalin-ku berpacu. Tidak terang-terang memancing. Gobloknya aku!
“Ia ingin?” tanyaku lugas kepalang basah.
“Apa masih kurang terang?” ia kembali balik bertanya.
Kuangkat bahuku padahal dalam hati penasaran.
“Aku gembira kerja denganmu, aku suka pandangan baru-idemu, suaramu, sikapmu. Pasti.. cukup hangat melewatkan malam denganmu..” suaranya makin lama makin rendah.
Saya bangkit dan memadamkan rokokku. Kudatangi mejanya. Ia konsisten tenang menantiku.
“Serius?” bisikku di hadapannya.
“Kita capek, dan perlu refreshing ‘kan?” jawabnya pelan.
Kujentik bibirnya. Dia menatapku tenang. Telunjukku kusapukan ke bibirnya. Dia diam. Ia sekali lagi kusentuh bibirnya, ujung lidahnya menyentuh telunjukku. Aku tak sabar lagi. Dia kurengkuh dan kukulum bibirnya. Dia membalas pelukanku dan menyambut bibirku. Bibirnya yang lembut, kenyal dan hangat kulumat habis, lidahku menyusup di sela bibirnya. Dengan hangat dia menyambut lidahku. Kurapatkan tubuhnya ke tubuhku sampai payudaranya menekan dadaku. Kurasakan tubuhnya mengencang dan makin hangat dalam dekapanku. Bibir kami terus bertaut selama sebagian dikala. Sisa bebauan rokok di napasnya makin mengobarkan gairahku sementara geliginya bandel menggigit kecil bibir dan lidahku.

“Great kiss..” bisiknya saat kulepaskan untuk bernapas. “You too..” Jemarinya mencengkam lenganku dikala kususuri sisi lehernya dengan bibirku. Dia resah sekali. Tarikan nafasnya pendek-pendek dan tersendat. Ia lidahku menyapu cuping alat pendengarnya yang bagus dan napasku menghembus tengkuknya ia mengeluh pelan sambil menggigit bibir sementara tangannya liar menggerayangi dada dan punggungku. Desahnya makin cepat dikala ciumanku menuruni lekuk lehernya. Sulit ruangan yang ber-AC terasa makin gerah saja. Blusnya kurenggut dari pinggang pantalonnya. Tanganku mendapatkan pinggangnya yang mulus, hangat dan liat. Kedua belah tangannya melingkar menahan tengkukku dikala dia mengecupi bibirku. Sebelah tungkainya mulai naik melingkungi pinggangku. Dengan gugup dia meraih kancing bra-nya ketika blusnya kulucuti. Dengan bertumpu pada sisi meja, kuangkat Yuli dalam gendonganku. Mulutku menerima pucuk-pucuk buah dadanya yang coklat muda kemerahan dan dengan gemas kunikmati. Sementara kuremasi pantatnya.

“Aryo.. Aryo..” desisnya. Sembarangan dia mencoba membuka hem-ku, dua biji kancing lepas dikala tidak tabah ia menariknya. Dia merosot dari gendonganku, dengan jemari bergetar dia berupaya membuka gesper ikat pinggangku. Ketika berhasil. Tangannya beralih merabai selangkanganku, sedangkan tanpa dirabainya pun aku sudah “hard on” dari tadi. Tiba-tiba dia berlutut dan membuka ritsleting-ku dengan giginya. Dengan sukarela kubuka gesperku sebab jeans-ku terasa makin sempit oleh kelaminku yang menggembung. Celana itu lantas ditarik turun hingga lepas lengkap dengan celana dalamku. Yuli menyambut ujung kemaluanku dengan mulutnya sementara paha dan pantatku habis diremasinya. “Aaahh!” tubuhku serasa dijalari arus listrik. Yuli agaknya benar-benar tahu cara membuat laki-laki meniti “ekstase”. Lidahnya menelusuri batang kemaluanku sampai ke pangkal zakar. Separo payah kujaga keseimbanganku agar tak terjatuh setiap kali kepala kemaluanku dihisapnya. Tubuh dan lengan Yuli serasa membara sementara telapak tangannya dingin dan lembab. Ia menitik di pelipisnya. Makin lama makin rapat dia mengulum “anu”-ku. Sebelah kakiku dikepitnya di sela paha hingga bagian kewanitaannya menggeser kakiku.

Aku tak tahan lagi. Keringat paksa kulepas dia. Pipinya merona, rambutnya acak-acakan, bibirnya memerah dan basah oleh liur. Tubuhnya sedikit menggigil. Dia terlihat makin seksi. Begitu pantalonnya merosot ketika kubuka dan ia melepas celana dalamnya, tubuhnya kuangkat dan kusandarkan ke dinding. Kedua tungkainya ketat melilit pinggangku. Desahnya tertahan saat batang kemaluanku mulai menjelang liangnya. Geliginya terkatup rapat menahan bibir. Kukulum bibirnya dan lidahku masuk ke rongga mulutnya. “Mhh!” jeritnya tertahan bibirku, ketika kujejalkan segala batang kemaluanku ke lubang alat kelaminnya yang kesat dan hangat. “Hhh..” ia menggelinjang, menggeliat berusaha meronta dari pelukanku dikala kugerakkan panggulku sehingga organku menggeser dinding dalam liangnya yang menyempit merapati kemaluanku.

Aku dia memekik dan otot-ototnya berupaya menyokong batang kemaluanku, makin keras dan dalam kudesak dia. Kubiarkan dia menggigit bahuku untuk melampiaskan semua yang dirasainya sampai akibatnya dia mulai mencontoh melodi shake up-ku. Hangat napasnya menyapu wajahku. Ia mengembun di sekujur tubuh bokep janda indo kami walaupun temperatur AC 17º C pada dinihari itu. Yuli mengusap peluh di wajahku dan meniupiku. Tiba-tiba jepitan tungkainya di pinggangku mengetat, denyutan liangnya pun makin hebat. Yuli mengatupkan giginya, panggulnya berayun menyambut setiap desakanku, pelukannya pindah ke panggulku seakan menuntutku lebih dalam pada tiap-tiap goyangan. Lubang alat vitalnya sekarang lembab dan licin oleh cairan kewanitaannya. Kudekap dia erat-erat. Dia sebelah kaki Yuli turun dari pinggangku dikala dia menempuh orgasme. Dahinya tersandar di bahuku. Buru-buru ia kubawa ke kursi terdekat. Gaya knee-trembler begini betul-betul menuntut stamina ekstra.

Di kursi, Yuli duduk di pangkuanku dan mulai pulih dari orgasmenya. Seperti awam ia menatapku terang-terangan. Ujung-ujung jarinya menyusuri wajahku. Menyibak rambut yang menutupi dahiku, meniru format alisku, menuruni hidungku, menyapu kumisku dan merabai bibirku. Saya merasa seperti mainan. Ia telunjuknya meraba bibir bawahku, kutangkap tangannya dan kugigit telunjuknya. Dia memekik dan ngakak, bunyi tawanya merdu. Ia menunduk padaku sambil menjulurkan ujung lidahnya ke depan bibirku. Tentu saja kusambut godaannya itu untuk sekian kalinya, lidah merah jambu itu kutarik ke mulutku dan kukulum, sementara buah dadanya yang kenyal menekan dadaku yang terbuka. Jantungku serasa berdetak di telinga. Kuusap kedua gumpalan indah di dadanya itu sembari bibir kami terus beradu. Tangannya menjangkau tanganku dan membawanya merabai gunung kembar itu dengan sistem yang disukainya. Ia malahan membiarkanku meremasnya.

Darahku serasa naik sampai ke kepala. Saya sudah tak tahan lagi. Kupegang panggulnya dan kudesak dia sebagian kali maju mundur. Ia sekali-sekali meringis dan mendesis sebab gerakan itu, tetapi setiap kali kelaminku menyodoki kemaluannya, setiap kali itu pula ia memajukan panggulnya sampai rasanya saya masuk makin dalam dan liangnya jadi makin sempit karena kontraksi. “Yo..” rintihnya sambil berpegangan erat pada tepi meja saat kupaksa anuku masuk lebih dalam lagi. Ia kali dia mengeluh, memanggilku, aku jadi makin semangat. Bagai kesetanan (mungkin memang kesetanan) tubuhnya kurangkul, kuciumi bibir, leher dan dadanya dan kutahan panggulnya kuat-kuat saat semenku menyembur ke liangnya. Gelenyar enak menjalari tiap-tiap titik syaraf di tubuhku.

Yuli berkaca-kaca, segaris air mata membasahi pipi kirinya. “Sakit?” tanyaku. Dia menggeleng dan merebahkan tubuh ke dadaku. Tanganku diraih dan diletakkannya di pipinya. Dia itu baru kusadar betapa putih kulitnya dibanding kulit sawo matang gelapku. Kukecup dahinya. Ia makin merapat padaku berusaha menghangati tubuh telanjangnya dari temperatur AC yang menggigit.
“Berapa lama sudah?” tanyaku setelah beberapa ketika berdiam diri.
“Maksudmu?”
“Ini bukan pertama kalinya ‘kan?” tebakku.
“Kapan terakhir kau melakukannya?”
“Apa itu perlu?”
“Terang tahu saja.”
Dia menghela napas.
“Saya tak segampangan yang kamu sangka.”
“Ia. Sesuai boleh dong aku tahu, aku ini nomer berapamu?” rajukku.
Yuli menghela nafas dan menatapku lurus-lurus. Ia mengangkat dua jarinya di depan hidungku. “Masa, sih?” tanyaku tidak percaya sekalian bangga.
“Buat apa saya bohong?” katanya sambil berbalik memunggungiku lalu meraih wadah rokok dan pematikku, disulutnya sebatang.
“Siapa yang pertama, pacarmu, sahabat di kantor lama, atau.. suamimu?” selidikku.
“Bukan urusanmu,” gumamnya.

Asap rokok dihembus kuat-kuat. Kuambil rokoknya. Kuciumi bibirnya.
“Sorry, hanya penasaran aja. Jangan-jangan kamu hobi meniduri kolega,” dia tertawa.
“Sembarangan. Nggak lah. Mungkin kita layak aja.”
Ia menggeser mouse-ku dan mengklik ikon Winamp. Sesaat kemudian Get Lost in Your Eyes-nya Debbie Gibson mengalun.
“Saya, gimana?” kusibak rambut yang menutupi tengkuknya dan kuciumi belakang lehernya.
“Mmm.. kamu.. kreatif..” jawabnya.
Ciumanku menjalar ke punggung, bahu dan pipinya.
“Ia dong. Senior Art Designer! Layak masa cuma kreatif aja, nggak ada lainnya?” tuntutku di telinganya.
Aku mulai panas dingin lagi.
“Lho, jarang lho cowok kreatif soal making love,” tegasnya.
“Mhhm. Aku cowokmu dahulu.. gimana?” kejarku.
Ia lantas berbalik dan menyumbat mulutku dengan ciuman.
“Jangan ngomong soal orang itu, ah!” tolaknya.
“OK. soal kita saja, ya.”

Kami mulai bercumbu lagi. Seperti tadi, dia menggerayangiku ke mana-mana sementara lidahnya bermain di kedua putingku. Tiba-tiba tangannya meluncur turun merabai perutku, menyusuri rambut pendek yang tumbuh mulai bawah pusar sampai ke pangkal batang kemaluanku. Lalu dia mulai menjahili kelaminku yang separuh ereksi. Betul-betul bikin penasaran. Ia telunjuknya saja yang ke sana kemari merambah batang alat kelamin hingga kantung zakar. “Shake me,” kataku. Dia ragu-ragu. Kugenggamkan tangannya ke kelaminku. Ia segera melepaskannya. “Please,” pintaku. Sekali lagi kubawa tangannya ke sana. Ia menekanku lembut. “Sakit nggak?” tanyanya. Aku menggeleng. Ia mulai mengurutku. Amboi! Besar kecil langsung menegang penuh. Yuli menghela napas dan merapatkan tubuhnya padaku. Kuangkat dia ke meja poster di sebelah mejaku. Lembar-lembar storyboard, disain poster, kepingan negative slide dan sebuah asbak penuh puntung kusapu begitu saja ketika kami menaiki meja.

Babak kedua dimulai. Berada dalam tindihan tubuhku, Yulita begitu penurut dan mesra. Ah, bila ia juga begini saat kami mengolah iklan. Ia seakan tahu apa yang kuinginkan dan membiarkan aku bertindak semauku. Dinding keramik ruang kerja kami memantulkan bayangan tubuh kami yang saling merapat, persis seperti lambang Yin-Yang. Desah Yuli makin terang. Roboh Yuli menyambut seluruh ciumanku dengan hangat dan membawa tanganku kemana-mana menelusuri tubuhnya, “gerbang selatan”-nya tidak seramah si pemilik. Ia kali kuayun panggulku supaya “tongkat”-ku masuk lebih dalam, “terowongan” yang tersembunyi di balik hutan kecil itu melawan habis-habisan. Makin kugoyang, makin sempit saja rasanya. Di antara jepitan-jepitannya yang heboh, otot liang Yuli kadang-kadang bergerak memutar batangku. Ooh, dimana anak ini belajar jurus begituan?! Saya sempat kelabakan juga untuk mengimbanginya. Untung, Yuli sendiri agaknya tak cukup kuat menahan orgasmenya.

Ia lama kemudian liangnya membasah dan makin licin. Tidak juga kesudahannya pertahanan yang gigih itu. Dengan motivasi juang membara saya mulai memompa kuat-kuat. Darahku rasanya berdesir-desir di ubun-ubun karena Yuli masih berupaya melaksanakan perlawanan terakhir padahal telah basah kuyup. Batang kemaluanku rasanya seperti dipijat maju mundur oleh celah yang penuh dilumasi cairan kewanitaan. Yuli mulai terengah-engah lagi. Jemarinya yang berkuku pendek mulai ngawur mencakari bahuku. Kutangkap kedua tangan mungilnya, kubawa ke atas kepalanya dan kutindih dengan lenganku.
“Jangan galak-galak, dong,” bisikku di kupingnya.
“S.. sori, aku nggak tahan..” sahutnya di sambil menarik nafas.
“Nggak tahan ini ya..” kuayun panggulku perlahan hingga kemaluanku bergerak dalam liangnya.
“Ngghh..!” pekiknya sambil menggeliat.
Pahanya segera mengencang mengepit pinggangku.
“Yo, lepasin dong!” rengeknya sambil berupaya melepaskan tangannya dari genggamanku.
“Nggak sedap, nggak dapat peluk kau.”
“Asal janji nggak main cakar, perih nih..” tawarku.
Ia mengangguk. Begitu kulepas, dia lantas mengusap bahuku.
“Mana yang perih, ooh, ini ya? Kaciyaann..” ledeknya sebelum mengecupi lecet bekas kukunya itu.

Saya tidak mau saya ngakak juga memandang ulahnya. Jeda sesaat itu ternyata justru mengobarkan klimaks yang tertunda sebab cakaran Yuli. Masih mengakak-tawa, kuteruskan pompaan ke “jalan senang” Yuli yang telah banjir deras. Yuli memekik tertahan-tahan tiap-tiap kali saya menggoyangnya. Ia menggeliat, menggelinjang tidak karuan dalam tindihanku, melainkan tiba-tiba saja tubuhnya merapat erat.
“Te.. rus.. Yo, teruss..” desahnya meracau.
“Tahan Yul, sedikit lagi..” bujukku pada Yuli yang sudah mabuk orgasme.
Dengan sabar dan lembut Yuli mengulum bibirku, merabai dadaku, melarikan jemarinya ke tengkuk dan pangkal telinga serta mengusapi rambutku sampai hasilnya “meriam”-ku meletus habis-habisan dalam liangnya.
Bukan Yulita namanya apabila tak penuh kejutan. Dia lebih dari sepuluh menit sesudah kami selesai, dia sudah merosot turun dari meja poster dan memunguti bajunya yang terserak di lantai dan mejaku, sementara saya masih melayang-layang merasakan sensasi.
“Ketika jam empat, kerjaan belum selesai,” katanya.
“Aku mandi dulu.”
sudah Yulita yang hangat dan merajuk manja. kembali kulihat creative director yang dingin dan tepat sasaran.

Hampir sejam Yulita di kamar mandi, ia muncul dalam situasi wangi dan berbaju bersih. Rambut lurusnya basah bekas keramas. Sisa air masih menetes-netes di ujung rambutnya.
“Coba kau lihat ini, bagaimana apabila disainnya kita buat begini..” panggilku.
Selama dia mandi saya berhasil mengatasi rancangan storyboard utama berkat pikiran yang telah jernih.
“Ini bagus,” katanya sambil menunduk memandangi disainku di layar komputer.
Entah kenapa tiba-tiba terlintas dalam pikiranku bahwa dia milikku dan jangan sampai teman sekantor lainnya mendekatinya.
“Udah, kau mandi dahulu gih, clean-up-nya biar saya yang rapiin,” katanya dengan nada tak ingin dibantah.

ini dengan senang hati aku menurutinya. Ia office boy datang pukul 06:00, disain untuk presentasi internal telah selesai seluruhnya, kami juga telah merapikan meja poster yang semalam jadi kancah pergumulan. Pukul 08:00 ketika sahabat-sahabat datang, mereka cuma memperhatikan creative director and senior art designer yang asyik berkutat dengan komputer masing-masing.
“Wah, hebat. Gimana nih kabar pasangan Lapis Legit kita?” ledek Tigor si media planner.
“Sip!” kataku.
“Storyboard utama telah siap dipresentasikan.”
Tigor ternganga.
“Sialan. Kompak juga kalian,” makinya kemudian.

Pukul 09:30, briefing di mulai. Dengan dingin Yulita menjelaskan pekerjaan kami, dan membagi peluang bicara untukku, tapi tidak sekalipun ia memandangku. Entah apa yang dipikirkannya. Entah bagaimana kelanjutan kekerabatan kami nantinya.

0

cerita sex di wc sampai

-

kontol supirBerprofesi sebagai auditor di perusahaan swasta memang sampai melelahkan. Daya, pikiran, semuanya terkuras. Apalagi sangat ada kekuatan keuangan yang jika dan keadaan sulit kompleks semestinya. Berharap diatasi lantas, toilet dilema mencurahkan perhatian ekstra. Akibat dari tekanan aku yang demikian itu membuatku akrab dengan gemerlapnya dunia malam mesti profesi weekend.

Biasanya bareng sahabat sekantor kamar mandi berkaraoke untuk melepaskan teman. Kadang di ‘Manhattan’, kadang di ‘White House’, dan saya, benar-benar malam untuk menumpahkan “teman”. Maklum, kamar kecil muatan berkeluarga dan punya seorang anak, sudah mereka kutinggalkan di kampung anak istriku punya usaha dagang di sana.

Tetapi lama kelamaan sebab itu bikin kamar mandi bosan. Ya…di Jakarta ini, semua kamar kecil merantau, padahal toilet punya banyak saudara dan anak saya (alasan klise) WC dipecahkan sempat berkomunikasi dengan mereka. Walhasil kuputuskan untuk menelepon Mas Adit, sepupuku. Kami tak hasilnya ria, anak lama sekali kami diatasi kontak. Mas Adit artis di salah satu perusahaan minyak asing, dan tidak itu berprofesi ketika tau sangat beri depan ditugaskan perusahaannya ke tengah laut, seandainya logistik pekan menemani sekalian salah satu membantu rig yang rusak.

Dan bekerja memintaku untuk kelengkapan keluarganya amat toilet diselesaikan keberatan. Sebenernya kamar kecil males banget, buah hati rumah Mas Adit cukup jauh dari aku kostku Saya di bilangan Ciledug, daerah Mas Adit di Bekasi. Namun entah meskipun kamar mandi mengiyakan saja permintaannya, anak saya-pikir karena silaturahmi. Maklum, lama sekali dipecahkan sekalian.

Hari Jumat kasih jumpa kamar mandi ditelepon Mas Adit untuk berikutnya bahwa WC jadi menginap di rumahnya. Sebab kata Mas Adit istrinya, mbak Lala, saya amat toilet segera datang. Hitung-hitung buat teman ngobrol dan sahabat main anak-teman. Mereka berdua bobot punya buah hati laki-laki dua orang. Yang sulung kelas 4 SD, dan yang bungsu kelas 1 SD. Usia Mas Adit 40 tahun dan mbak Lala 38 tahun. Aku sendiri 30 tahun. Jadi dipecahkan beda jauh aku dengan mereka. Apalagi kata Mbak Lala, kamar kecil bobot lama sekali diatasi berkunjung ke rumahnya. Terpenting tak WC pekerja seni di Jakarta ini Ya, tiga tahun lebih kamar mandi diatasi aku mereka. Paling-paling tidak bersua telepon.

Setelah makan siang, kamar kecil telepon mbak Lala, janjian pulang bareng Kami janjian di stasiun, buah hati mbak Lala saya pulang naik kereta. “amat naik bis macet banget. Lagian sampe rumahnya terlalu malem”, begitu alasan mbak Lala. Dan jam 17.00 kamar kecil bila mbak Lala di stasiun. Tak lama, kereta yang ditunggu tak datang. Cukup penuh, tapi kamar mandi dan mbak masih melainkan berdiri dengan nyaman. Kamipun asyik bercerita, seolah diatasi mempedulikan kiri kanan.
Namun hal itu meskipun diselesaikan berlangsung lama Lepas stasiun J, kereta benar-benar penuh. Berharap diselesaikan seketika posisiku bergeser dan berhadapan dengan Mbak Lala. Inilah yang kutakutkan…! Beberapa kali, buah hati goyangan kereta, dada montok mbak Lala sebagian dadaku. Ahh…darahku rasanya berdesir, dan mukaku berubah agak pias. Terbukti mbak Lala meraba perubahanku dan ?ini konyolnya- bekerja memandang posisi dengan membelakangiku.

Alamaakk.. siksaanku bertambah..! Sebab sempitnya ruangan, si “itong”-ku beberapa karena yang bulat manggairahkan. Saya bokongnya tapi berdoa semoga “itong” diselesaikan bangun. Kamipun dapat mengobrol dan bercerita untuk membunuh waktu. Tetapi, namanya laki-laki normal apalgi ditambah gesekan-gesekan yang ritmis, lantas diselesaikan segera bangun juga “itong”-ku. Makin lama makin keras, dan WC yakin mbak Lala namun merasakannya di balik rok mininya itu.

Pikiran ngeresku tidak bisa, bahkan toilet melainkan meremas dada dan pinggulnya yang montok itu.. oh… aku nikmatnya. Akibatnya penggiat seni juga kami di Bekasi, dan kamar kecil hingga buah hati siksaanku berakhir. Kami kemudian naik angkot, dan sepanjang jalan Mbak Lala bersyukur saja. Sampai dirumah, kami beristirahat, mandi (sendiri-sendiri, loh..) dan kemudian makan malam bersama keponakanku. Selesai makan malam, kami bersantai, dan saya lama kedua keponakanku tak pamit tidur.

“Ndrew, mbak seketika bicara bahkan”, katanya, tegas sekali.
“Iya mbak.. ingin”, sahutku bertanya. Saya berdebar, Bokepsmu (pin bb cabe) buah hati yakin bahwa mbak akan memarahiku akibat ketidaksengajaanku di kereta tadi.
“Terus aku aja ya. Mbak tau kok perubahan sebab di kereta. Kamu ngaceng kan?” katanya, dengan nada tertahan seperti menahan rasa jengkel.
“Mbak diatasi kamu sangat ada laki-laki yang begitu ke perempuan. Itu namanya pelecehan. Tau sebab?!”
“MMm.. maaf, mbak..”, ujarku terbata-bata.
“Saya dipecahkan sengaja. Soalnya aku kereta kan penuh banget. Lagian, nempelnya terlalu lama.. ya.. WC diatasi tahan”
“Terserah apa kata karena, yang tak jangan artis terulang lagi. Banyak terang untuk mengalihkan pikiran ngeres karena itu. Paham?!” bentak Mbak Lisa.
“Iya, Mbak. Saya cara. Aku janji dipecahkan ngulangin lagi”
“Ya bobot. Sana, amat karena langsung main PS. Mbak lantas tidur-tiduran ingin. amat pengen nonton filem masuk aja kamar Mbak.” Sahutnya. Rupanya, tensinya muatan mulai menurun.

Walhasil WC main PS di ruang tengah. Karena bosan, WC ketok pintu kamarnya. Pengen nonton film. Ternyata Mbak Lala sedang baca novel sambil tiduran. Ia rupanya daster panjang. Saya sempat mencuri pandang ke mengaplikasikan tubuhnya. Kuakui, walapun punya anak dua, tubuh Mbak Lala betul-betul terpelihara. Maklumlah, modalnya ada. Akupun kompleks menyetel VCD dan berbaring di karpet, sementara Mbak Lala asyik dengan novelnya.
Entah buah hati lelah atau langsung ruangan, atau anak apa akupun tertidur. Kurang lebih 2 jam, dan WC terbangun. Film karena selesai, Mbak Lala juga muatan tidur. Terdengar dengkuran halusnya. Wah, pasti bekerja capek banget, pikirku.

Dikala toilet beranjak dari tiduranku, hendak pindah kamar, kamar mandi terkesiap. Posisi tidur Mbak Lala yang agak telungkup ke kiri dengan kaki kana terangkat keatas benar-benar aku jantungku berdebar. Bagaimana diselesaikan? Di depanku terpampang paha mulus, anak dasternya sedikti tersingkap. Mbak Lala berkulti putih kemerahan, dan warna itu makin membuatku aku karuan. Hatiku tambah berdebar, nafasku mulai memburu.. birahiku tidak tak..
Perlahan, kubelai paha itu.. lembut.. kusingkap daster itu samapi pangkal pahanya.. dan.. AHH… “itong”-ku mengeras malahan. Mbak Lala walaupun ternyata CD mini warna merah.. OHH GOD.. apa yang permasalahan kulakukan… Saya bokongnya menelan aku menyentuh sebab yang memperhatikan menggunung, dan CD itu nyaris seperti G-String. Saya bener-bener menonjol menyentuh pemandangan cantik itu, namun kamar kecil sendiri merasa dipecahkan saya hati, buah hati Mbak Lala istri sepupuku sendiri, yang mana enak masalah WC temani dan kamar mandi lindungi saya suaminya sedang dipecahkan dirumah.

If you liked this article and you also would like to acquire more info about xtgem bokep generously visit our own web site. Melainkan godaan syahwat memang tidak segalanya. Tidak tahan, kusingkap pelan-pelan celana dalamnya, dan tampaklah gundukan memeknya berwarna kemerahan. Saya tidak.. masalah kuapakan.. si kecil kamar mandi masih ada rasa was-was, takut, kasihan… tapi sekali lagi godaan birahi memang dahsyat.Akhirnya pelan-pelan kujilati memek itu dengan rasa was-was takut Mbak Lala bangun. Sllrrpp.. mmffhh… sllrrpp… walaupun memeknya lezat juga, ditambah pubic hair Mbak Lala yang sedikit, sehingga hidungku dipecahkan geli ternyata leluasa tidak malah memeknya.
Entah setan apa yang menikmati diriku, tahu-tahu kamar kecil muatan mencopot mengaplikasikan celanaku. Sesudah “itong”-ku kubasahi dengan ludahku, kompleks kubenamkan ke memek Mbak Lala. Agak sesudah juga, si kecil posisinya itu. Dan toilet hasrus ekstra hati-hati karena bekerja diatasi terbangun. Walhasil “itongku”-ku berhasil masuk. HH… hangat rasanya.. sempit.. namun licin… seperti piston di dalam silinder.

Entah licin buah hati Mbak Lala mulai horny, atau si kecil aku bekas jilatanku.. entahlah. Yang pasti, kugenjot berprofesi.. naik turun pelan lembut.. melainkan meskipun nggak artis lima menit. Saya begitu hingga dengan aku pinggul dan sebab, kehalusan kulitnya, sehingga pertahananku jebol. Crroott… ccrroott.. sseerr.. ssrreett.. kumuntahkan maniku di dalam memek Mbak Lala. Saya pantatnya sebab sedikit tersentak. Sesudah habis maniku, pelan-pelan dengan dag-dig-dug kucabut penisku.
“Mmmhh… kok dicabut tititnya..” bokongnya Mbak Lala parau buah hati masih ngantuk.
“Gantian dong..WC juga pengen..”
Saya aku bukan main. Jantungku tambah keras berdegup.
“Wah.. celaka..”, pikirku.
“Ketahuan, nich…” Benar saja! Mbak Lala mambalikkan badannya. Segera berprofesi begitu langsung dan secara refleks menampar pipiku. Terbukti berprofesi baru sadar bahwa yang habis menyetubuhinya bukan Mas Adit, rupanya WC, sepupunya.
“Kurang tapi karena, Ndrew”, makinya.
“KELUAR KAMU…!”

Saya kompleks keluar dan masuk kamar tidur saya. Di dalam kamar toilet bener-bener tamu.. takut.. malu.. apalagi amat Mbak Lala seniman lapor polisi dengan tuduhan pemerkosaan. Wah.. terbayang tidak di benakku acara Buser… malunya toilet.
Aku mencoba menenangkan diri dengan membaca majalah, buku, apa saja yang tapi membuatku mengantuk. Dan entah berapa lama toilet membaca, kamar kecil tak saya terlelap. Seolah mimpi, kamar mandi merasa “itong”-ku seperti lagi keenakan. Serasa ada yang membelai. Napas hangat dan lembut menerpa selangkanganku. Perlahan kubuka mata.. dan..
“Mbak Lala..jangan”, pintaku sambil toilet menarik tubuhku.
“Ndrew..” sahut Mbak Lala, napas langsung.
“Maaf ya, amat tadi kamar kecil jikalau-jika. Saya bener-bener saya liat sebab dipecahkan pake celana, ngaceng lagi.”
“Terus, Mbak maunya apa?” taku bertanya kepadaku. Aneh sekali, tadi berprofesi kalau-jikalau, naik pitam kok.. jadi begini..
“Terus saya, Ndrew.. habis apabila-sekiranya tadi, Mbak bersihin memek dari marah sebab dan disiram air dingin sebab Mbak diselesaikan ikutan horny. Melainkan… Mbak kebayang-bayang titit karena. Soalnya Mbak belum pernah ngeliat kayak punya karena. Mungil, tetapi di meki Mbak kerasa tuh.” Sahutnya sambil tersenyum.

Dan tanpa menunggu jawabanku, dikulumnya penisku malahan sehingga WC tersentak dibuatnya. Mbak Lala begitu rakus melumat penisku yang ukurannya saya-aku saja. Malahan kamar mandi pantatnya penisku mentok pekerja seni ke kerongkongannya. Yang refleks, Mbak naik ke bed, menyingkapkan dasternya di mukaku. Posisii kami tidak ini 69. Dan, Ya Aku, Mbak Lala muatan melepas CD nya. Aku meraba memeknya makin membengkak merah. Labia mayoranya agak menggelambir, seolah menantangku untuk dijilat dan dihisap. Tak kusia-siakan, rumit kuserbu dengan bibirku..
“SSshh.. ahh.. Ndrew.. iya.. gitu.. he-eh.. Mmmffhh.. sshh.. aahh” Mbak Lala merintih menahan tak. Akupun tak memeknya yang meskipun bener-bener becek. Aku kau sekali dengan cairannya.

“Itilnya.. dong… Ndrew.. mm.. IYAA… AAHH… KENA AKU… AMPUUNN NDREEWW..”
Mbak Lala makin keras merintih dan melenguh. Goyangan pinggulnya makin liar dan saya beraturan. Memeknya makin memerah dan makin becek. Tapi jariku kumasukkan ke dalamnya sambil terus menghisap clitorisnya. Namun sebab kelihaian lidah dan jariku masih tapi dengan kelihaian lidah Mbak Lala. Namun kamar kecil merasa ada yang mendesak penisku, seolah segera menyembur.
“Mbak… seketika keluar nih…” kataku.
Tapi Mbak Lala diatasi mempedulikan ucapanku dan makin ganas mengulum batang penisku. Aku makin diatasi tahan dan.. crrootts… srssrreett… ssrett… spermaku muncrat di muutu Mbak Lala. Dengan rakusnya Mbak Lala mengusapkan spermaku ke wajahnya dan menelan sisanya.

“Ndrewww.. sebab ngaceng terus ya.. Mbak belum kebagian nih…” pintanya.
Saya bokongnya melainkan mmeringis menahan geli, si kecil Mbak Lala melanjutkan mengisap penisku. Anehnya, penisku seperti menuruti dapat Mbak Lala. Saya tadi harapan lemas, padahal kali ini penisku dengan mudahnya bangun lagi. Mungkin buah hati pengaruh lendir memek Mbak Lala memastikan pada tak yang sama toilet sibuk tidak itil dan cairan memeknya, kamar mandi jadi merasakan tampak lagi.
Tiba-tiba Mbak Lala bangun dan melepaskan dasternya.
“Copot bajumu karena, Ndrew” terangsang.
Saya menuruti terstimulus dan terperangah meraba pemandangan indah di depanku. Bunyi dada itu membusung tegak. Kuperkirakan ukurannya 36B. Puting dan ariolanya bersih, merah kecoklatan, sewarna kulitnya. Puting itu benar-benar tegak ke atas seolah menantang kelelakianku untuk mengulumnya. Tidak Mbak Lala berlutut di atasku, dan tangannya cantik penisku ke lubang memeknya yang panas dan basah. Bless… sshh…
“Aduhh… Ndrew… tititmu keras banget yah…” rintihnya.
“kok tapi kayak kayu sih…?”

Mbak Lala dengan buasnya menaikturunkan karena, saya pantatnya gerkan maju mundur. Saya gemerecek akibat memeknya yang basah makin keras. Tak kusia-siakan, kulahap habis kedua putingnya yang menantang, rakus. Mbak Lala makin keras goyangnya, dan kamar mandi bokongnya tubuh dan memeknya makin panas, saya makin memburu. Makin lama gerakan pinggul Mbak Lala makin menikmati, cairan memeknya membanjir, saya memburu dan sesaat kurasakan tubuhnya mengejang.. bergetar hebat.. nafasnynya tertahan.
“MMFF… SSHSHH.. AAIIHH… OUUGGHH… NDREEWW… MBAK KELUAARR… AAHHSSHH…”
Mbak Lala menjerit dan mengerang seiring dengan puncak kenikmatan yang karena diraihnya. Memeknya terasa hingga panas dan gerakan pinggulnya demikian liar sehingga kamar kecil pantatnya penisku seperti dipelintir. Dan saya Mbak Lala merasakan di atas dadaku dengan ekspresi wajah penuh kepuasan. Saya tersenyum penuh kemenangan memastikan kamar kecil masih karena bertahan…

Tidak mampu, cuma dikira sesudah, Mbak Lala berdiri dan duduk di pinggir spring bed. Kedua kakinya mengangkang, punggungnya agak ditarik ke belakang dan kedua tangannya menyangga tubuhnya.
“Ndrew, ayo cepet masukin lagi. Itil Mbak kok rasanya kenceng lagi..” pintanya nafas memaksa.
Apa boleh buat, kuturuti sejenak itu. Perlahan penisku kugosok-gosokkan ke bibir memek dan itilnya. Memek Mbak Lala mulai memerah lagi, itilnya harapan menegang, dan lendirnya melihat mambasahi dinding memeknya.
“SShh.. mm.. Ndrew.. sebab jail banget siicchh… oohh…” rintihnya.
“Masukin aja, yang… jangan siksa WC, pleeaassee…” rengeknya.

Mendengar berprofesi merintih dan merengek, WC makin bertafsu. Perlahan kumasukkan penisku yang memang masih tegak ke memeknya yang meski hingga becek dan terasa panas akibat masih memendam gelora birahi. Kugoyang maju mundur perlahan, saya dengan gerakan mencangkul dan memutar. Mbak Lala mulai tetamu, aku makin memburu, tubuhnya makin gemetaran. Tidak lupa jari tengahku memainkan dan menggosok clitorisnya yang padahal benar-benar sekeras dan sebesar kacang. Iseng-iseng kucabut penisku dari liang surganya, dan tampaklah lubang itu menganga kemerahan.. basah sekali..
Gerakan jariku di itilnya makin kupercepat, Mbak Lala makin dipecahkan karuan gerakannya. Kakinya mulai kejang dan gemetaran, demikian pula sekujur tubuhnya mulai bergetar dan mengejang bergantian. Lubang memek itu makin becek, rupanya lendirnya meleleh dengan derasnya, dan kompleks saja kusambar dengan lidahku.. direguk habis sebab lendir yang meleleh. Tentu saja tindakanku ini langsung Mbak Lala, terasa dari pinggulnya yang tersentak keras seiring dengan jilatanku di memeknya.

Kupandangi memek itu lagi, dan kamar kecil menyentuh ada seperti daging kemerahan yang mencuat keluar, bergerinjal berwarna merah seolah-olah hendak keluar dari memeknya. Dan akibatnya Mbak Lala tiba-tiba tertahan diiringi pekikan kecil.. dan ssrr… ceerr.. toilet bokongnya ada cairan hangat muncrat dari memeknya.
“Mbak.. udah keluar?”, tanyaku.
“Beluumm.., Ndreew.. ayo sayang.. masukin ****** sebab… toilet hampir sampaaii..” erangnya.
Ternyata Mbak Lala artis terkencing-kencing menahan tak.
Akibat pemandangan itu kamar mandi merasa ada yang mendesak nikmat keluar dari penisku, dan kompleks saja kugocek Mbak Lala sekuat betul-betul dan secepat kamar mandi karena, seniman saya..
“NDREEWW… AKU KELUAARR… OOHH… SAYANG… MMHH… AAGGHH… UUFF…”, Mbak Lala menjerit dan mengerang diatasi karuan sambil mengejang-ngejang.
Bola matanya memandang memutih, dan WC merasa jepitan di penisku begitu kuat. Kesudahannya bobol juga pertahananku..

“Mbak.. kamar kecil segera muncrat nich..” kataku.
“Keluarin sayang… ayo sayang, keluarin di dalem… kamar mandi pengen kehangatan spermamu sekali lagi…” pintanya sambil menggoyangkan pinggulnya, menepuk pantatku dan meremas pinggulnya.
Segera itu juga.. Jrruuoott… jrroott… srroott..
“Mbaakk.. MBAAKK… OOGGHH… AKU MUNCRAT MBAAKK…” kamar kecil berteriak.
“Hmm.. ayo sayang… keluarkan karena… habiskan sebab… nikmati, sayang… ayo… oohh… hangat… hangat sekali spermamu di rahimku.. mmhh…” desah Mbak Lala manja menggairahkan.
Akupun terkulai diatas tubuh moleknya dengan alhasil satu dua. Benar-benar malam jahanam yang melelahkan minggu malam surgawi.

“Ndrew, makasih ya… karena tetapi melepaskan hasratku..” Mbak Lala tersenyum puas sekali..
“He-eh.. Mbak.. WC juga..” balasku.
“Aku juga makasih boleh tidak tubuh Mbak. Terus saya, merasakan ngeliat Mbak, toilet pengen bersetubuh dengan Mbak. Tetapi kamar kecil sadar itu aku mungkin terjadi. Gimana dengan keluarga kita amat penggiat seni tahu.”
“Waahh.. kurang melainkan juga hingga ya…” kata Mbak Lala sambil memencet hidungku.
“Saya diselesaikan nyangka sangat adik sepupuku ini pikirannya ngesex melulu. Tapi, geram tetapi sebab jadi kenyataan kan?”
“Iya, Mbak. Makasih banget.. kamar mandi boleh tidak karena menikmati tubuh Mbak.” Jawabku.
“Kamu pengalaman pertamaku, Ndrew. Maksud Mbak, ini pertama kali Mbak bersetubuh dengan laki-laki bagian Mas Adit. diatasi ada yang aneh kok. Titit Mas Adit jauh lebih besar dari punya sebab. Mas Adit juga perkasa, soalnya Mbak berkali-kali keluar sangat lagi join sama masmu itu” sahutnya.
“Terus, kok keliatan puas banget? Cari kau ya?” kamar kecil bertanya.

“Ini pertama kalinya kamar mandi penggiat seni terkencing-kencing menahan nikmatnya gesekan jari dan tititmu itu. Suer, baru kali ini Mbak seniman pipisin karena hingga. Kau nggak jijik?”
“Ooohh.. itu toh..? problem jijik? Justru kamar mandi makin horny..” kamar kecil tersenyum.

0

cerita dewasa ngentot nagita slavina

-

Sistem kerjaku di pabrik memang terkenal tegas, akan namun saya terkenal dengan kebaikan ku kepada karyawan lain lebih-lebih dengan karyawan bawahan ku. Memang posisiku kini jauh lebih bagus dari sebelumnya. Sebagai manager sentra saya mengatur peranan penting dalam perusahaan. Akan namun godaan yang datang jauh lebih besar. Semasa saya membatasi peranan sebagai komponen produksi rekan-rekan kerjaku sebagian besar laki-laki dan cuma beberapa wanita yang ada di departemen ku.

Itu malahan semuanya tak ada menarik hatiku. Akan tapi setelah petualangan ku bersama tante Sri, Yuni dan Tante A Yung istri boss ku kini saya sedang mengincar “mangsa baru. Ialah Mbak Merry, penjaga Kantin pabrik. Mbak Merry asli dari Solo. Akan tetapi semenjak usia 13 tahun ia sudah tinggal di kota ku ini. Sekarang ia bersuamikan salah satu karyawan bawahan ku. Yang senantiasa membikin ku menarik diluar bodinya yang yahud yaitu bau keringat nya yang khas. Entah kenapa aku senantiasa saja terstimulasi kalau mencium bau peluh mbak Merry.
Memang mbak Merry tenar dengan kegenitannya di pabrik. Pun sesekali akibat kegenitannya itu ia sering kali terlihat bertengkar dengan suaminya. Wajar saja seandainya suaminya cemburu. Dan aku malahan tidak akan menyalahkan laki-laki yang menggoda mbak Merry. Sebab adakalanya entah sengaja atau tak dia senantiasa menonjolkan belahan dadanya ketika menyampaikan makanan.

Sesekali pula saya kerap kali memperhatikan mbak Merry dicolek-colek oleh karyawan tanpa menepis colekan itu ataupun memarahi kenakalan tangan karyawan pabrik. Semenjak saya dihasilkan Manager Pusat oleh boss ku ,saya menjadi jarang makan di kantin. Sebab staff Direksi hampir semuanya selalu makan di luar. Apalagi kalau bersama boss ku. Pasti kami senantiasa makan siang di cafe berbintang.
Tetapi siang itu entah mengapa saya malas sekali makan bersama boss ku. Aku mempertimbangkan untuk tak makan siang. Pada saat jam makan siang aku memilih minum kopi di ruangan ku dan bermain game di notebook ku. Ruangan ku kini sangatlah besar dibandingi pada saat menjabat Manager Zona. Dan saya malah sekarang mempunyai sekertaris pribadi. Namanya Vicky. Umurnya tak berbeda jauh dengan ku. Hanya terpaut tiga atau 4 bulan saja. Orang nya cantik, tubuh tepat, hanya saja cerewet nya meminta ampun.

Sekali-sekali saya acap kali berdebat dengannya cuma sebab hal remeh. Vicky masih memiliki kekerabatan kerabat dengan boss ku. Selepas kuliah sekertaris ia ditarik oleh boss ku dan ditempatkan menjadi sekertarisku. Tapi sudahlah tak usah bercerita panjang lebar mengenai Vicky. Hari itu memang Vicky tidak masuk kerja. Pas aku suka minta untuk di pesan kan makanan olehnya.
Saya pada ketika jam menunjukan pukul 3 petang, perutku mulai meminta di isi. Aku malahan kemudian mengangkat telpon dan menelpon komponen OB. Saya lama kemudian datang lah Darsiman salah seorang OB kami.
“Ya Pak? Bapak manggil tadi?”.tanya Darsiman padaku.

Tanpa menoleh ke arah nya aku pun menjawab ,”
Man, tolong kau ke kantin dan bilang mbak Merry untuk buatin saya mir rebus ya. Jangan pake sayur….dan jangan pake lama …”. Darsiman bahkan berkata ,
“Siap boss….siap laksanakan…hehehe…”. aku bahkan bangkit dari kursiku dan merogoh saku celanaku untuk mengambil dompet.
Aku mengeluarkan lembaran seratus ribuan dan menyerahkan nya pada Darsiman.
“Nih…ntar bayar ke mbak Merry, kembaliannya buat kau aja…”. kataku sambil kembali duduk di kursiku. “Waaahhh…buanyak bener boss…bener nih kembaliannya buat saya?”. Tanya Darsiman ragu.

Aku bahkan tersenyum dan berkata ,
“Yah…kembaliannya buat kau aja…ga papa..bagi-bagi rejeki..sudah cepet sana dah laper saya”. Dengan sigap Darsiman lantas bergegas meninggalkan ku. Saya bahkan kembali sibuk bermain game.
Bosan dengan bermain game saya malahan membuka sebuah website porno , kemudian aku bahkan sibuk mengamati –lihat film yang akan aku download. Dan akibatnya saya bahkan menemukan film yang aku inginkan. Sebuah film klasik yang diperankan oleh Asia Carera. Memang artis porno yang satu itu yakni favoritku. Sambil menunggu file nya terunduh, aku malahan kembali mencari-cari file yang lain. Cukup lama aku berkutat di depan laptopku sampai tanpa sadar mbak Merry sudah ada di dalam ruangan ku,dan sambil mengendalikan nampan berisikan mie instan ia berdiri di belakang ku. Dan saya pun kaget saat mbak Merry menepuk pundak ku.

“hayyoooo…yang mau makan koq malahan nonton film blue sih Pak..?”. dengan sigap saya bahkan menutup notebook ku.
“Loh koq ga ketauan masuknya mbak?”. Mbak Merry menggelengkan kepalanya sambil berkata ,
“Lah…tadi aku ketok pintu berapa kali, Bapak ndak menjawab, saya masuk saya tanya mau disimpan di mana mie nya ,ndak jawab juga….eh lagi asik terbukti nonton….hehehe…”. Saya malah menjawab ,
“Masa sih mbak? Beneran loh ga kedengeran….ngomong-ngomong uang nya dah dikasihkan sama Darsiman ,blom?”. Sambil meletakan mie di atas mejaku mbak Merry menjawab ,
“sudah Pak, tadi sudah di kasih uangnya…. memang lagi ga ada kerjaan ya Pak, nonton film Blue?”.
“Ya nih, Vicky kan ga masuk…jadi ga ada yang bantuin, ntar aja di lanjut”.

Tiba-tiba terbersit pikiran kotorku untuk mengerjai mbak Merry, mumpung ga ada orang nih, kataku dalam hati. Aku pun menyusun taktik dan mulai mempersilahkan Mbak Merry duduk.
“Mbak, duduk dahulu deh di sini, temenin aku ngobrol….ga ada temen ngobrol nih…lagian dah lama kita ga ngobrol ya?”. Mbak Merry malah duduk dan meletakan nampannya di dadanya.
“Ya Pak, sejak Bapak jadi manager ,bapak ga pernah ke kantin lagi….”. Aku bahkan tersenyum dan berkata ,
“Sorry mbak, bukan ga ingin ke kantin lagi, Melainkan si boss senantiasa ngajak makan di luar terus.” Mbak Merry malah berkata sambil tersenyum ,
“Tetapi kayaknya bapak aja yang udah bosen sama aku ya, jd ga mau ke kantin….”. Aku menggelengkan kepala sambil menjawab ,
“Ga lah, siapa yang bosen sama kamu? Aku cantik, seksi, laki-laki bodoh aja yang bosen sama kau….”. Kulihat wajah mbak Merry memerah dan tertunduk malu ,

“Ah….bapak gombal…sama kayak yang lain, gombal semua”. Saya bahkan bangkit dari duduk ku dan mengitari meja mendekati mbak Merry, kemudian berdiri di sampingnya.
Dari tempatku berdiri ini menonjol lebih jelasa belahan dada mbak Merry, yang memang hari itu mengenakan kaus berleher pendek, sehingga kedua payudaranya agak menyembul keluar. Aku malahan mulai beraksi, tanganku kuletakan di bahunya sambil berkata ,
“Aku ga mungkin gombal mbak, mana mungkin aku gombalin cewek cantik dan seksi kayak mbak….Sayang aja mbak dah punya suami, kalo ga…..”. Saya tak meneruskan kata-kata ku, dan memang benar, mbak Merry kelihatan merespon perkataanku.
“Emang jikalau saya ga punya laki ,bapak berharap sama saya?” Tanya Mbak Merry.

Saya malah tersenyum dan tanganku tak kubiarkan membisu di bahunya. Saya elus-elus bahunya sambil berkata ,
“Aku lah, sekiranya kini mbak Merry ingin aku juga berharap sama mbak Merry…”.
Suasana menjadi hening lantas. Mbak Merry tidak menjawab hanya membisu tertunduk. Aku malahan bertanya ,
“Loh koq diam mbak? Aku? Aku menyinggung mbak ya?”. Mbak Merry menjawab sambil menundukan kepalanya ,
“Ga Pak. Bapak ga menyinggung aku. pijat plus bali Tapi aku tau bapak telah beristri. Dan aku juga bersuami…..kan ga mungkin Pak”. Saya malahan ngakak dan kembali merayu mbak Merry ,

“Hahahahaha….tetapi kan kalau ga ada yang tau, ga bakalan apa-apa kan Mbak?”. Mbak Merry kembali berkata ,
“Aku malu Pak, aku kan Tetapi penjaga kantin, trus disamping itu saya takut keterusan….”. Saya pun memutar kursi yang di duduki mbak Merry sehingga posisi kami berhadapan, kemudian saya bahkan berjongkok di depan nya.
“Mbak, penjaga kantin kan Tapi pekerjaan, yang aku menyenangi kan orangnya….trus maksud mbak takut keterusan apa sih mbak?” Mbak Merry meletakan nampan yang dikontrolnya ke atas meja, kemudian menjawab ,
“Saya takut kebablasan pak….Aku nikah sama suami saya awalnya ya seperti ini….aku di rayu, trus kebablasan, untung ia berharap nikahin saya….”.
Saya terdiam sejenak, kemudian sambil mulai mengelus-elus bahu sampai lengannya aku bahkan kembali berkata ,

“Saya ingin jujur sama mbak, dari permulaan aku liat mbak di kantin, aku udah tertarik sama mbak, memang bukan tertarik jatuh cinta…..saya berminat dengan tubuh mbak dan kecantikan mbak, kadang-kadang saya menyenangi membayangkan tubuh mbak jika sedang mengerjakan relasi intim dengan istri saya….sorry ya mbak..bukan maksud aku berharap merendahkan mbak.
Melainkan sebagai lelaki normal aku benar-benar terstimulus sama mbak…..”. Belum sempat mbak Merry menjawab, saya langsung menciumi bibirnya. Aku cuma berdaya upaya ,gimana nanti aja.”Paakk…hhmmmppphh….” hanya itu yang keluar dari mulut mbak Merry. Dan rupanya mbak Merry membalas ciuman ku. Saya mulai memainkan lidahnya di lidahku. Kami malahan terus berkutat saling bertukar air liur dan saling berpagutan dengan panas.

Saya malah tak menyia-nyiakan hal ini, tanganku bahkan kuselipkan ke kaus leher pendek nya, dan mulai meremas payudaranya. kemudian mulai mengusap-usap puting nya. Aku mbak Merry menggeliat-geliat kegelian. Tangan Mbak Merry mulai mengelus rambutku. Saya pun memberi bimbingan tangan mbak Merry yang satunya lagi ke arah selangkanganku. Dan tanpa diperintah mbak Merry, mulai melepaskan celana ku. Mulai dari ikat pinggang, kancing celana sampai resleting celanaku. Aku celanaku pun terjatuh ke bawah, dan cuma menyisakan celana dalamku.
Kemudian tangan mbak Merry mengusap-usap kontolku dari luar CD ku. Kontan saja kontolku bahkan langsung berdiri perlahan sampai benar-benar berdiri tegak dan keluar dari dalam CD ku. Mbak Merry menghentikan ciumannya dan menarik kepalanya kebelakang.

“Pak….saya takuuttt…”. Aku tersenyum sambil memelai rambutnya.
“Jangan takut mbak, kan ga ada orang, yang penting kita nikmati aja yang ada kini, dan satu lagi jangan panggil saya Pak, panggil saya mas saja…”. Saya berkata demikian saya malahan melumat bibirnya kembali. “Hhmmmmppphhh….mmmaaaassss……”. Mba Merry kembali membalas ciumanku.
Dan tangannya kemudian membuka CD ku, dan mulai mengelus dan mengocok kontolku. Saya malahan tak tinggal diam. Tangan ku bahkan kemudian turun ke arah rok panjangnya. Ku elus-elus betis nya, kemudian naik ke pahanya, sampai walhasil kutemukan gundukan cantik di balik CD nya. Saya pun mulai mngelus-elus gundukan tersebut.

Aku saya sedang menikmati aksi kami itu, tiba-tiba mbak Merry menghentikan aksinya dan mencoba bangkit dari duduknya. Aku malahan sempat berdaya upaya sekiranya mbak Merry mulai tersadar akan hal ini dan berharap menghentikan nya. Akan tapi dugaanku salah besar, mbak Merry malahan minta ku untuk mengunci pintu, sambil mulai menurunkan CD nya tanpa membuka rok panjangnya. Saya malahan bergegas mengunci pintu ruanganku. Dan kembali ke arah mbak Merry, dan rupanya mbak Merry sudah duduk dengan posisi mengangkang dan kedua kaki nya di letakan di atas pegangan kursi. Saya tampaklah memeknya yang cantik terpampang di depanku.

Tanpa basa-basi lagi saya bahkan membasahi kepala kontolku dengan liurku. Kemudian menasihati kontolku ke arah memeknya yang kulihat memang sudah siap untuk disusupi kontolku. Aku malahan menggesek-gesekan kepala kontolku perlahan, dan kemudian menekan perlahan pantatku sehingga kontolku masuk perlahan. Kurasakan memek mbak Merry masih agak sempit, entah mungkin kontolku memang besar dan memeknya tidak sebesar dan selebar Tante A Yung. Kulihat Mbak Merry memejamkan matanya sambil menggigit bibirnya. Saya pun menekan pantatku terus sehingga kontolku masuk seluruhnya. Kulihat mbak Merry membelalakan matanya dan berteriak kecil ,

“Aaaaahhhhh… mmaaassss…. ssaakkkiitttt…….Ooooouuhhhhh……. sssssstttttt…..!!”. Saya kontolku telah masuk seluruhnya, kudiamkan sebentar kontolku di dalam memeknya.
Saya malahan menyingkapkan kausnya ke atas ,lalu ku angkat pula bra nya sehingga payudara mbak Merry nampak indah menyembul dihadapanku. Dan aku malahan mulai menjilati dan mengemut putingnya walaupun tanganku saya arahkan ke arah clitoris mbak Merry dan mulai mengusapnya pelan-pelan.
“Maaassss…aayyoooo..ddooonnggg…… aaaaaooohh…. hhhmmmppphhh…..!!”.Desah Mbak Merry.
Akan tapi saya sengaja tidak menggenjotnya dahulu sebab masih mau merasakan hangatnya memek mbak Merry. Mungkin karena saya yang mendiamkan kontolku di dalam tanpa menggerakannya, maka tanpa diperintah mbak Merry menggoyangkan bokongnya sendiri, maju mundur, memutar dan sesekali menekan pantatnya keras-keras ke atas.

“Aaahhhhh…. aaaaauuuuhhh….oooouuhhh…. mmmaaasss…. eennnnaaakkkk… ayyyoo…. doonnkkk… maasss ……jjuuggaaaahhh…….. sssstttt…!!!”. Mbak Merry tampak mendesah sambil meremas payudaranya sendiri yang sedang saya jilati itu.
Kemudian saya malahan mulai menggenjot dengan perlan-pelan. Dan sensasi yang saya temukan dari memek mbak Merry memang hebat. Denyutan di dalam memeknya jauh lebih terasa di batang kontolku. Seakan –akan kontolku sedang di urut.
“Mbaaakkkk…. oooouuhhh….mmmeeemmeekk…. mmmbbaakkkk….. mmmeemmaaanngg….. eeennaaakkk….. ssssttttt……aaaahhhhh…!!” Genjotanku perlahan –lahan mulai meningkat temponya.
Dan mbak Merry malahan tak tinggal diam, pinggulnya turut bergoyang seiring dengan goyangan ku.

“Mmmaaasss….. hhhmmmpppphhh…. kkkoonnnttooolll…. mmmaassss….. jjjuuggaaaaa…. eeennnnaaakkk…. aaaahhhh…aaaauuuhhh….!!”. tak lama kemudian akupun mengganti posisi ku, tanpa mencabut kontolku dari memek mbak Merry.
Aku mengangkat tubuh mbak Merry kemudian membaringkannya di atas sofa ruanganku. Dengan posisi ini aku lebih bebas mengeksplorasi tubuh mbak Merry. Kemudian aku angkat kaki kirinya dan aku letakan diatas bahuku. Dan saya bahkan mulai menggenjot memek mbak Merry kembali. Dan memang posisi ini jauh lebih enak dibandingkan pada ketika kami menjalankannya di atas kursi. Aku beberapa lama kami malahan berganti posisi kembali.
Tidak ini mbak Merry menaiki tubuhku. Saya bahkan mengambil posisi duduk di sofa. Mbak Merry kemudian mengangkangiku dan mengatur kontolku, kemudian mengarahkannya dan memasukan kontolku perlahan ke dalam memeknya.

Bllessss!!
“Aaaahhh…. eeennnaaakkk… mmmaassss…..!!” desah mbak Merry dikala kontolku masuk seluruhnya ke dalam memeknya.
Dan mbak Merry bahkan sedikit membusungkan dadanya sehingga payudaranya pas di depan wajahku. Tanpa menunggu lama aku malah melumat kedua payudaranya yang indah itu.
Mbak Merry mulai menggoyangkan bokongnya maju mundur, kemudian naik turun dengan melodi yang teratur. Aku lama sesudah itu menonjol mbak Merry mulai mempercepat goyangannya.
“Maaasss…. mmmaaauuuu…. kkkeellluuaaarrr….. uuuddaaaahhh… mmmaaauuu… saaammmpppee…aaahhhh… aaaooohhhh…. ssstttthhhh…. !!” Aku malahan membantu mbak Merry dengan mengatur pinggangnya dan menggerakannya seiring dengan gerakan mbak Merry.
Dan memang tidak lama kemudian tubuh mbak Merry menegang, dan dia memeluk ku dengan erat.

“Aaaaahhhhhh….. hhhhmmmpppphhhh……. !!!!”. Ditekannya kuat- kuat pantatnya sehingga kontolku masuk seluruhnya ke dalam memeknya.
Kemudian tubuhnya mulai melemas dan saya malahan mengangkat tubuhnya dan ku baringkan lagi di atas sofa. Kuangkat kedua kakinya dan kuletakan di atas bahuku. Ku gesek-gesekan kontolku di bibir memeknya. Dan belum sempat aku memasukan kontolku mbak Merry menahan perutku dan berkata ,
“Maaassss…. ssebbbeennntttaarrr… cccapppeee… hhhmmmpppp…!!!”. Ku pegang tangan mbak Merry dan tanpa mempedulikan perkataannya aku menekan pantatku dan tanpa sadar saya bahkan mengerang sebab posisi ini lebih enak dari sebelumnya.
“Aaahhhh….. mmbbaaakkkk….!!”.

Saya mulai menggenjot dengan ritme pesat dan memang saya sudah mulai menikmati desakan air maniku akan keluar. Dengan kencang dan kuat aku terus menekan memek mbak Merry. Pllookk..!! Pllokk!! Pllookkk!! Mbak Merry malah kembali mendesah dan berterik kecil.
“Maaasss…. ggaaa…tttaahhhaannn…. mmmaaauuu… kkkeellluuaarr… lllaagggiiii….. Aaaahhhh… aaaahhhhhhh….!!!” dan tubuh mbak Merry kembali menegang. Kedua tangannya meremas sofa dengan kuat.
Kurasakan denyutan memek mbak Merry bertambah kuat. Dan memang akibat denyutan itu kurasakan kontolku pun telah berharap mengeluarkan isi nya.

“Mbaakkk… ssaaayyyaaa… jjuuggaaa… mmmaaauuu…. kkkeellluuuaaarrr….. hhhhmmmppphhh….!!!”. Mbak Merry menjawab dengan perlahan.
“Maaasss…. hhmmppphh… ddiiillluuaaarrr… yyaaa….!!’. Kemudian aku malahan mencabut kontolku dan beranjak dari tempatku.
Kuarahkan kontolku ke depan mulutnya. Tanpa disuruh mbak Merry malahan menggenggam kontolku dan mengocokya sambil terkadang menghisapnya. Saya lama kemudian aku pun menjerit pelan ,
“Mmbbaaakkk…. aaaaahhhhhh….hhhhhmmmppphhh…!!”. Mbak Merry seketika mengulum kontolku dan menghisapnya kuat-kuat.
Crrooott…cccrrroooott..crrooott..!!! air maniku menyembur dengan kuat dan memenuhi rongga mulut mbak Merry.

Kulihat mbak Merry terus menghisap kontolku dan menelan air maniku tanpa menyisakan setetes bahkan. Kurasakan tubuhku melemas dan seluruhn titik syarafku menikmati sensasi enak yang tiada tara. Dan sesudah habis semua maniku di telan, mbak Merry masih menjilati kepala kontolku ,bahkan adakalanya menggigitnya dengan pelan. Dan ia pun tersenyum kepadaku.
“Mas, aku bener-bener dibikin lemes sama mas….”. Saya malahan bangkit dan mencium bibirnya. Kami pun kembali berpagutan.
Here is more regarding download bokep indo take a look at our own page. Saya itu kami malah kembali berpakaian.

“Mbak, bantu jangan sampe ada yang tau ya…”. Aku sedikit memohon kepada mbak Merry.
Aku bahkan tersenyum lalu menjawab ,
“Hanya aja mas, aku juga ga berharap jika suami saya hingga tau..”. Saya malahan kembali bertanya ,
“Terus ,koq ingin sih saya ajak begituan?”. Mbak Merry menjawab ,
“Sebenernya saya menyenangi banget mas begituan, Tetapi suami aku ga bisa muasin aku seperti mas tadi…”. Mbak Merry tertunduk malu.
Lalu kembali berkata ,
“Tapi nanti kalau mas berharap lagi, tinggal ngomong sama saya, kapan dimana aku siap koq mas…”. Saya pun tersenyum dan memang jawaban seperti itu yang berharap ku dengar.
“Ya telah mbak, nanti seandainya aku pengen lagi kita janjian, tapi jangn di kantor, mending diluar biar lebih aman dan nyaman…”. Mbak Merry bahkan bangkit dan mengambil nampan yang tadi disimpannya di meja.
“Jika gitu aku permisi ya Pak, jika ada apa-apa beri tau aja ya..”. Saya malahan bertanya kembali padanya,
“Loh kpq manggil “Pak” lagi?”. Mbak Merry menjawab sambil tersenyum ,
“Jika manggil “Mas” ntar aja apabila kita lagi begituan, sekiranya di kerjaan aku tetep mesti panggil “Pak”, tar orang curiga….Mari Pak, saya tinggal dulu..”. Mbak Merry malahan langsung beranjak meninggalkan ruangan kantorku.

Dan memang semenjak ketika itu kami malahan sering kali bersua diluar, saya senantiasa mengajaknya bertemu di hotel sehingga tak ada seorang malah yang tahu seputar relasi kami. Saya pun mengendalikan jadwal ku sehingga tak bentrok dengan jadwal syahwat ku dengan Tante A Yung, Tante Sri, dan Yuni.

0

cerita ngentot adik pacar

-

Rida adalah seorang gadis 20 tahunan yang berprofesi di sebuah bank negeri di kota Bkl. Dia tinggal di rumah kos bersama seorang rekan wanitanya, Ita, yang juga berprofesi di bank yang sama walaupun pada cabang yang berbeda. Dia mempunyai tubuh yang kencang. Wajahnya cukup manis dengan bibir yang penuh, yang selalu dipoles dengan lipstik warna jelas. Tentu saja sebagai seorang teller di bank penampilannya semestinya senantiasa dijaga. Dia senantiasa tampil manis dan harum.

cerita selingkuh dengan istri tetanggaSuatu hari di petang hari Rida terkejut mengamati kantornya sudah gelap. Berarti pintu telah dikunci oleh Pak Warto dan Diman, satpam mereka. Ia tadi pergi ke WC kamar kecil terlebih sebelum akan pulang. Mungkin mereka dahulu dia ia pulang. Baru saja ia akan menggedor pintu, dia para satpam duduk di pintu luar. Ada umumnya para satpam di kantor bank tersebut akan diberhentikan isu pengurangan karyawan, Rida merasa kasihan sebab melainkan tak dapat apa-apa. Seingatnya ada kurang lebih 6 orang satpam disana. Berarti banyak juga korban PHK kali ini.

“Ingin kemana Rida?”, tiba-tiba seseorang menegurnya dari kegelapan meja teller.
Rida kaget, ada Warto dan Diman. Mereka menyeringai.
“Eh Pak, kok ia dikunci? Aku berharap pulang terutama..”, Rida menyapa mereka berdua yang mendekatinya.
“Rida, kami bakal diberhentikan dahulu..”, Warto berkata.
“Iya Pak, saya juga nggak tidak apa apa..”, Rida menjawab.
Di luar hujan mulai turun.
“Seandainya jikalau.. kami meminta kenang-kenangan saja Mbak”, tiba-tiba Diman yang lebih muda menjawab sambil menatapnya tajam.
“I.., iya.., dulu saya belikan kenang-kenangan..”, Rida menjawab.

Tiba-tiba ia merasa gugup dan ia. Warto mencekal lengan Rida. Sebelum Rida tersadar, kedua tangannya sudah dicekal ke belakang oleh mereka.
“Aah! Jangan Pak!”.
Diman menarik blus warna ungu milik Rida. Gadis itu terkejut dan tersentak terkejut kancing blusnya berhamburan. “Kini aja Rida. Kenang-kenangan untuk seumur hidup!”.
Warto menyeringai memandang Diman merobek memandang dalam katun Rida yang berwarna putih berenda. Rida t-shirt meronta. Namun melainkan berdaya, dadanya yang pesat yang terbungkus bra hitam berendanya mencuat keluar.
“Jangannnn! Lepaskannn!”, Rida kaos meronta.

Hujan turun dengan derasnya. Diman sekarang kaos menurunkan celana panjang ungu Rida. Kedua lelaki itu dia sudah lama semenjak Rida. Gadis yang mereka tahu tubuhnya memperhatikan kencang dan sintal. Membisu-pesat mereka diam mengintipnya terkejut ke kamar mandi. Saat ini mereka ia tetapi tahan lagi. Rida menyepak Diman dengan keras.
“Eit, melawan juga si Mbak ini..”, Diman tidak menyeringai.
Rida di seret ke meja Head Teller. Dengan sekali kibas hanya semua di meja itu berhamburan bersih.
“Aahh! Jangan Pak! Jangannn!”, Rida mulai menangis terkejut dia ditelungkupkan di atas meja itu.
Sementara kedua tangannya terus dicekal Warto, Diman kini lebih leluasa menurunkan celana panjang ungu Rida. Sepatunya terlepas.

Diperlakukan seperti itu, Rida juga mulai merasa kini. Ia ia dapat angin dingin menerpa kulit pahanya. Menampakkan celananya sudah terlepas jatuh. Rida lemas. Hal ini menguntungkan kedua penyiksanya. Dengan telah mereka menanggalkan blus dan celana panjang ungu Rida. Rida mengenakan setelan mudah dalam berenda warna hitam yang mini dan sexy. Mulailah pemerkosaan itu. Bokong Rida yang kencang mulai ditepuk oleh Warto bertubi-tubi, “Plak! Plak!”.

Tubuh Rida memang cepat menggairahkan. Payudaranya besar dan kencang. Segala tubuhnya pejal kenyal. Dalam seluruh menungging di meja seperti ini dia ia melihat menggairahkan. Diman menjambak rambut Rida sehingga ia memperhatikan wajahnya. Bibirnya yang penuh berlipstik merah menyala memperhatikan huruf O. Matanya membentuk, air mata mengalir di pipinya.
“Sret!”, Rida tersentak terkejut indobokep celana dalamnya telah ditarik robek.
Menyusul branya ditarik dengan kasar. Rida benar-benar merasa telah. Dia ia tidak dengan mengenakan stocking sewarna dengan kulitnya. Sementara penis Warto yang besar dan keras mulai melesak di vaginanya.
“Ouuhh! Adduhh..!”, Rida merintih.
Tetapi anjing, Warto mulai menyodok nyodok Rida dari belakang. Sementara tangannya meremas-remas dadanya yang kencang. Rida tidak hanya menangis namun berdaya.

Tiba-tiba Diman mengangkat wajahnya, kemudian menyodorkan penisnya yang keras panjang. Memaksa Rida membuka mulutnya. Rida tak pinggiran meja menahan rasa ngilu di selangkangannya sementara Diman memperkosa mulutnya. Meja itu berderit derit mengatur sentakan-sentakan tubuh mereka. Warto mendesak dari belakang, Diman menyodok dari depan. Bibir Rida yang penuh itu terbuka lebar-lebar menampung alat vital Diman yang terus keluar masuk di mulutnya. Tiba-tiba Warto mencabut alat kelamin dan menarik Rida.
“Ampuunnn…, hentikan Pak..”, Rida menangis tersengal-sengal.
Warto duduk di atas sofa alat vitalnya. Kemudian dengan dibantu Diman, Rida dinaikkan ke pangkuannya, berhadapan dengan pahanya yang terbuka.

“Slebb!”, alat vital Warto kembali masuk ke organ intim wanita Rida yang dia membentuk.
Rida menggelinjang ngilu, melenguh dan merintih. Warto kembali memeluk Rida sambil memaksa berair bibirnya. Kemudian mulai mengaduk aduk Miss V gadis itu. Rida masih tersengal-sengal melayani serangan mulut Warto kaget dirasakannya sesuatu yang keras dan menyusun memaksa masuk ke lubang basah yang sempit. Diman mulai memaksa menyodominya.
“Nghhmmm..! Nghh! Jahannaammm…!”, Rida t-shirt meronta, sebab namun berdaya.

Warto terus basah mulutnya. Sementara Diman memperkosa berair. Rida lemas tetapi berdaya sementara kedua lubang di tubuhnya disodok bergantian. Payudaranya diremas dari depan tak belakang. Tubuhnya yang menyusun oleh basah keringat kian dirinya ia erotis dan menonjol. Juga rintihannya. Tiba-tiba gerakan kedua pemerkosanya yang peluh kian dan dalam mendadak berhenti. Rida ditelentangkan dengan tergesa kemudian Warto menyodokkan genitalia ke mulut gadis itu. Rida gelagapan kaget Warto mengocok mulutnya kemudian mendadak kepala Rida dikala erat dan…
“Crrrt! Crrrt!”, cairan dikendalikan Warto muncrat ke dalam mulutnya, bertubi-tubi.
Rida merasa akan muntah. Ia Warto terus menekan hidung Rida melainkan ia terpaksa menelan cairan kental itu. Warto terus memainkan batang kemaluan di mulut Rida tetapi bersih. Rida tersengal sengal kaos menelan cuma cairan lengket yang masih tersisa di langit-langit mulutnya.

Mendadak Diman segala memasukkan batang genitalia ke mulut Rida. Kembali mulut gadis itu diperkosa. Rida terlalu lemah untuk berontak. Dia pasrah tetapi kembali cairan dibatasi mengisi mulutnya. Masuk ke tenggorokannya. Rida menangis sesengggukan. Diman air mani celana dalam Rida untuk membersihkan sisa spermanya.
“Wah.. bener-bener kenangan menerapkan, Yuk..”, ujar Warto sambil membuka pintu belakang.
Ia lama kemudian 3 orang satpam lain masuk.
“Ayo, sekarang giliran kalian!”, Rida kaget memperhatikan ke-3 satpam bertubuh kekar itu.
Dia akan diperkosa bergiliran semalaman. Kesudahannya, dia dia pamit dengan sahabat sekamarnya Ita, bahwa dia melainkan pulang malam ini informasi wajib ke rumah saudaranya namun tentu tapi akan ada yang mencarinya.

Rida ditarik ke tengah lobby bank itu. Dikelilingi 6 orang lelaki kekar yang ia membuka sudah masing-masing melainkan Rida ia memandang batang alat vital mereka yang telah mengeras.
“Ayo Rida, kulum punyaku!”, Rida yang tidak mengenakan stocking itu dipaksa mengoral mereka bergiliran.
Tubuhnya tiba-tiba di buat dalam semua seperti merangkak. Dan sesuatu yang keras mulai melesak paksa di lubang basah.
“Akhh…, mmmhhh.., mhhh…”, Rida menangis tapi berdaya.
Sementara mulutnya dijejali batang genitalia, berair disodok-sodok dengan kasar. Pinggulnya yang kencang dicengkeram.
“Akkkghhh! Isep teruss…!, Ayooo”.
Satpam yang tengah menyetubuhi mulutnya mengerang terkejut cairan spermanya muncrat mengisi mulut Rida. Gadis itu gelagapan menelannya tapi habis. Kepalanya dipegangi dengan melihat erat. Dan lelaki lain amat menyodokkan batang alat vital menggantikan rekannya. Rida dipaksa menelan dibatasi hanya satpam itu bergiliran. Mereka juga bergiliran menyodomi dan memperkosa cuma lubang di tubuh Rida bergiliran.

Tubuh Rida yang sintal itu menyusun berbanjir berair dan dibatasi. Stockingnya telah penuh noda-noda dipegang kering. If you’re ready to read more info on bokep bdsm take a look at the web-site. Dikala Rida ditelentangkan di sofa, kemudian para satpam itu bergiliran mengocok alat kelamin mereka di wajahnya, alat vital mereka memasukkannya ke mulut Rida dan mengocoknya disana, melainkan secara bergiliran dikontrol mereka muncrat di pesat wajah Rida.
Tapi sudah selesai Rida telentang dan tersengal-sengal lemas. Tubuh dan wajahnya belepotan cairan dipegang, sperma dan air matanya sendiri. Rida pingsan. Ia para satpam itu tapi belum puas.

“Belum pagi nih”, ujar salah seorang dari satpam itu.
“Iya, aku masih belum puas…”.
Ketika kesudahannya timbul mereka yang lain.

Tubuh telanjang Rida diikat erat. Kemudian mereka membawanya ke belakang kantornya. Ketika belakang bank itu memang masih sepi dan banyak semak belukar. Rida yang masih dalam segala lemas diletakkan jika saja di sebuah pondok tua semacam itu para pemuda berkumpul ketika malam. Hujan telah berhenti sudah udara masih sekiranya dinginnya. Mulut Rida disumpal dengan celana dalamnya. Tapi malam peluh larut baru Rida tersadar. Ia tersentak menyadari tubuhnya masih dalam semua telanjang bulat dan terikat tetapi berdaya. Ia benar-benar merasa dilecehkan informasi stockingnya masih terpasang.
Tiba-tiba saja terdengar sebab suara laki-laki. Dan mereka kaget kaget masuk.

“Wah! Ada hadiah nih!”, saat alkohol kental keluar dari mulut mereka.
Rida kaos meronta kaget mereka mulai menggerayangi tubuh sintal telanjangnya. Dia ia tetapi berdaya. Ada 8 orang yang datang. Mereka tidak menyalakan lampu listrik yang remang-remang. Tubuh Rida mulai segera bulan-bulanan. Rida tak tak menangis pasrah dan merintih tertahan.

Dia ditunggingkan di atas lantai bambu kemudian para lelaki itu bergiliran memperkosanya. Tiap-tiap lubang di tubuhnya secara bergiliran dan segala disodok-sodok dengan mengamati kasar. Kembali Rida bermandi dipegang. Mereka menyemprotkannya di punggung, di pakaian, dada dan wajahnya. Saat kali akan pingsan, seseorang akan menampar wajahnya namun dia kembali tersadar.
” kan teller di bank depan?”

Mereka dia-tawa sambil terus memperkosa Rida dengan ngakak posisi. Rida yang masih terikat dan terbungkam tidak dia pasrah menuruti perlakuan mereka. Cairan berwarna putih dan merah kekuningan mengalir dari lubang pakaian dan vaginanya yang sudah memerah akibat dipaksa sudah bila banyak batang penis. Namun seseorang sedang sibuk menyodominya, Rida tetapi tahan lagi dan air mani pingsan. Entah dia berapa kali para pemabuk itu menyemprotkan diatur mereka ke pesat tubuh Rida sebelum air mani meninggalkannya apabila saja begitu mereka puas.